#2 Kuis Enigmatika

prompt: location unknown
jumlah kata: 494



TERBIASA menjadikan rumus dan premis sebagai pola pikirnya, Saka melihat Martha pertama kali sebagai benang kusut.

Martha bisa menjadi satu orang hari ini, dan orang lain esok harinya. Seperti bunglon yang mampu menjelma apa pun yang dia mau; siapa pun yang dia tuju.

Kemudian, terbentuklah rahasia dan misteri yang ingin Saka sibak dan pecahkan. Dari yang semula menjauhi lingkaran pertemanan mana pun karena menganggapnya tak berguna, lelaki itu menempeli kelompok bermain saudara kembarnya sejak kali pertama jumpa Martha.

Lima tahun lalu. Awal dari kekaguman tahunannya.

Martha muncul di kaki gunung Masnang dengan kesepuluh jari diililit aksesoris, rambut dihias pernak-pernik, dandanan persis orang mau festival. Dia tidak tahu medan yang mau dia tempuhi, pikir Saka. Belum lagi kebiasaannya menggelayut di lengan Zack, sebentar singgah ke lengan Putri, tak lama pindah ke sisi Damar. Impresi pertama: perempuan genit ini akan sangat merepotkan.

Alih-alih, gadis itu begitu mandiri. Lisannya nihil dari keluhan. Gerakannya seluwes sapuan angin. Yang keluar darinya hanya hiburan, nyanyian merdu, juga kalimat puitis yang Saka pikir dipetik dari buku.

Sampai malam tiba, ketika semua sedang sibuk bercengkrama di hadapan api unggun, Saka menemukan sepasang mata gadis itu terpancang pada angkasa di sudut sunyi. Tiada yang menemani. Hanya perempuan itu sendiri, dan sekelebat kobaran api yang dipantulkan bola mata selegam malam.

“Menurutmu, mana yang duluan diciptakan? Kebaikan atau kejahatan?”

Saka tertegun ketika dicegat pertanyaan yang tidak dia duga-duga. Atensi Martha pun hijrah ke arahnya.

Usai upaya mengendalikan respons yang lebih lama dari biasanya, lelaki itu ikut berdiri di sisi Martha.

Martha merapatkan tubuh. Siku mereka yang bertengger di atas birai pembatas jurang saling menumpu. Saka mampu membaui aroma cendana yang menguar dari tubuh gadis itu lebih lekat, lebih padat.

“Kata Zack, kamu bisa ditanya-tanyai soal hal pelik,” kata gadis itu lagi.

“Lalu ini ujian?”

Gadis itu tertawa. Suara tawanya nyaring dan jernih. “Anggaplah aku kolektor perspektif.”

“Kebaikan.” Saka menyimpulkan. “Gelap ada karena ketiadaan cahaya. Kejahatan ada karena ketiadaan kebaikan.”

“Tapi, katanya Tuhan menciptakan sesuatu berpasangan. Gimana kalau keduanya diciptakan berbarengan, tanpa mendahului atau didahului?”

Jeda terbentuk lebih lama. “Kemungkinan selalu ada. Kesimpulan saya tadi juga kemungkinan. Sains pun kemungkinan. Karena nggak menyaksikan langsung, kita nggak tahu kepastiannya.”

“Kalau kamu dan Zack, mana yang lebih duluan lahir?”

Topik yang meloncat ke kuadran yang berbeda membuat Saka tersesat sejenak. Refleks berikutnya adalah menoleh cepat ke arah gadis itu, memastikan keberadaan humor di sana. Namun, nihil. Martha masih menanti jawabannya dengan mimik serius.

“Saya. Zack lahir delapan menit setelah itu.”

“Berarti, meski kembar, sebetulnya kamu kakaknya?”

“Ya.”

“Tapi ada yang bilang kalau kembar, yang lahir belakangan itu kakaknya.”

Saka mengurut pelipis. Imajiner. Aslinya dia cuma mengerutkan kening. “Tergantung persepsi kita tentang kehidupan. Kalau kamu menganggap lahir adalah titik awalnya, saya kakaknya. Kalau kamu menganggap tercipta titik awalnya, mungkin saya, mungkin juga Zack.”

Martha menyeringai. Menepuk akrab lengan atas Saka. “Thankies, Mas Saka. Ngobrol sama kamu ternyata enak.”

Kemudian perempuan itu berbalik, kembali ke kerumunan dan mengambil alih gitar dari tangan Damar. Meninggalkan Saka dalam ketersesatan alur pikirannya sendiri.

Tinggalkan komentar