Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Patuk

Prompt: Nightingale
Jumlah Kata: 500

Sering terdengar nyanyian menyayat dari rumah besar di ujung jalan. Orang bilang, istri pemilik rumah sudah gìla. Kewarasannya pergi bersamaan dengan nyawa sang suami yang terenggut secara misterius.

“Namanya?”

Tanyaku disahuti ketuk permukaan dasar piring yang mencumbu meja. Narasumberku mendelik, “Mana kutahu? Katarina, Katerina … siapalah.”

Status mahasiswa jurnalistik membuatku memeluk semangat itu. Semangat mengulik sesuatu yang kurasa menarik.

Wanita yang gila karena suaminya meninggal bisa menggariskan dua cabang genre: romansa—wanita itu terlalu mencintai suaminya—kisah yang tak kalah mengharukan ketimbang Romeo dan Juliet; dan misteri—kemungkinan wanita itu yang menanggung beban moral ‘khusus’ akan suaminya.

Bagai hiu yang memburu mangsa berdasarkan bau darah, kucari tahu dari segala sumber dekat rumah tua khas Eropa itu. Yang saking suramnya, mungkin sudah beberapa kali ditawari jadi area syuting film horor.

Sayang, tak banyak informasi mampu kukantungi. Sebagian besar warga hidup di sini lama setelah rumah itu berdiri. Maka satu-satunya jalan yang tersedia hanyalah memasuki gerbang misterius yang pemiliknya tak pernah berbaur dengan masyarakat itu, dan membaurkan diriku sendiri di dalam sana.

Seorang wanita berpakaian perawat menyambutku dengan ramah. Suatu keajaiban bagiku, wanita itu memeperbolehkanku berjumpa nyonyanya tanpa ada birokrasi berlebihan atau menimbulkan kecurigaan.

“Nyonya suka bercerita dan melihat orang mendengarkan ceritanya. Tapi, tidak banyak yang berani dan betah singgah. Mari, silakan lewat sini.”

Secangkir teh hijau menemaniku ketika bertatap muka dengan sosok yang selama ini hanya mampu kuterka. Di luar ekspektasi, ia tak menampakkan tanda-tanda kegilaan. Bajunya bersih dan rapi. Tatanan ubannya apik seperti aristokrat zaman penjajahan. Meski sudah diselubungi penuaan dan beberapa bekas luka di muka, kecantikan masa mudanya masih jelas menjejak.

Ia menyambutku dengan senyum tenang. Sewaktu kutanya siapa namanya, jawabanya,

“Catherine.” Aksen British-nya kental.

Obrolan basa-basi berlangsung normal, hingga sempat kuyakini, sang nyonya nggak benar-benar sinting. Akan tetapi, segalanya berubah sewaktu kutanya latar belakang suaminya meninggal dunia. Keningku tak henti berkerut. Bukannya menuturkan kisah hidup wanita Eropa renta, ia malah mengisahkan dongeng fantasi.

“Aku adalah burung bulbul yang berusaha berontak dari sangkar emas. Seorang lelaki dengan 500 mawar merah yang kulihat pertama dalam pengembaraan liarku menjadi tujuanku kemudian. Olehnya, aku diajari bernyanyi—kau tahu, seekor bulbul bisa menyanyikan 300 lagu cinta berbeda untuk pasangannya.

“Sampai kemudian, lelaki itu memintaku terbang lebih jauh. Disuruhnya aku bernyanyi untuk saudaranya, ayahnya, kemenakannya, pamannya, kakeknya, bahkan seluruh keluarga besarnya, dengan uang yang diambilnya dari suaraku.

“Aku kelelahan, sayapku sobek. Tapi lelaki itu ditulikan oleh uang. Dalam tragedi, empati masih bergantung pada kekuatan. Arogansi sosial yang berakar pada kolonisasi. Tak seorang pun mau membantuku, hingga aku kabur untuk terbang ke sini. Lelaki itu menyusul, lalu kupatuk dirinya hingga lenyap di tengah badai karena tak pernah memiliki sayap.”

Sinting, kubatinkan berkali-kali. Batal sudah keinginanku mengulik kisah darinya. Aku ini jurnalis, bukan penulis dongeng. Kukubur cerita ini dalam-dalam sebagai salah satu penggalian berita yang zonk.

Hingga bertahun-tahun kemudian, kala pekerjaanku lebih stabil dan mengungkitku ke negeri sebelah, kudapati sebuah berita dari legenda yang telah lapuk dan telah dilupakan sejarah. Sobekan artikel menampakkan wajah perempuan penghibur seabad silam, dengan tajuk: Catharina, Bulbul yang Siap Menghiburmu di Malam Berbadai dengan 300 Lagu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: