Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Hidup Mati

Prompt: Pretty Chains
Jumlah Kata: 500

“Ya, dorong terus, Bu, sedikit lagi …”

Entah mana suara sugesti bidan dan mana keluh serta rintihannya sendiri, wanita yang berbaring berantakan di ranjang persalinan tak lagi tahu-menahu.

Semua suara itu hanya terdengar seperti satu erangan memusingkan oleh telinganya yang kebas. Kebas oleh rasa ingin mâti yang berpusar dan berputar-putar, di antara kepala, perut, dan selangkangan. Tiga pusat di mana nafsu duniawi ditiupkan ke raganya.

Saat ini, yang dia pikirkan hanyalah mâti. Lalu entah bagaimana, tiba-tiba saja gelembung nostalgia membungkusnya, lebih padat dibanding genggaman suaminya yang basah oleh peluh dan air mata.

Terakhir kali ia dipeluk rasa ini adalah sepuluh tahun lalu.

Ketika itu, belenggu rasa sakit yang mengakrabinya bukanlah rasa sakit dari proses persalinan, melainkan muak akan kedurjanaan Ayah padanya dan pada Ibu.

Berenang di strata sosial terendah membuat akal sehat mereka semua tergigit pilu. Lantas pilu itu dilampiaskan Ayah pada Ibu, lalu Ibu melampiaskan padanya. Kemudian semua rasa sakit yang ditampungnya itu dilampiaskannya pada sayatan silet di kulit, sebab tak punya siapa-siapa untuk dijadikan sasaran selain diri sendiri.

Bukan sekali dua kali kemurkaan melandasnya, hingga ia menyalak nyalang pada wanita yang menuntahkannya ke dunia, “Kenapa tidak kaugugurkan saja aku sejak dalam kandungan, biar nggak jadi beban hidupmu?”

Derit mesin. Desah naik dan turun tarikan napas. Seruan-seruan bidan, perawat dan lelaki di sisi ranjang yang berstatus suaminya. Kesemuanya kembali menjalin kesadarannya kembali ke detik ini. Detik di mana ia ingin mati …

Ia ingin mati …?

Benarkah ia ingin mati?

Kukuh hatinya memberontak. Tidak. Ia ingin putri dan dirinya sendiri menyesapi kehidupan ini. Ia ingin menyaksikan putrinya keluar dengan selamat dan tertawa-tawa menerima boneka. Menerima rapor nilai yang sempurna. Menerima sepeda baru yang mengkilap. Menerima ponsel yang paling anyar. Memperkenalkan pacar kepadanya. Mendapatkan gaji pertama. Menikah dengan lelaki yang baik. Memiliki anak dan hidup dengan sempurna.

Ia ingin putrinya keluar dan mengenali kebahagiaan di dunia ini bersamanya.

Maka, meski dibelenggu rasa ingin mati, ia tarik kesadarannya kembali ke masa kini. Ke masa di mana rasa kebas telah mengecupi tiga titik di mana nafsu duniawinya ditiupkan.

“Terus, Bu, sedikit lagi …”

Lagi-lagi, entah yang mana sugesti bidan dan mana rintihannya sendiri, wanita yang berbaring di ranjang persalinan tak tahu. Yang dilakukannya hanya berusaha membawakan kehidupan yang diinginkannya itu kemari.

Meski begitu, ia jelas tahu suara tangisan perdana seorang bayi yang dinanti-nantikannya selama sembilan bulan. Ketika suara itu menyusul memecahkan segala kekacauan di dalam ruang bersalin, tangisnya pun ikut pecah.

“Bu, anaknya lahir selamat dan sehat.”

Wajah bidan silih berganti bersama wajah ibunya di pelupuk mata. Tangis putrinya kini adalah tangisnya. Entah apa yang dilakukan perawat dan suaminya di bawah sana, detik ini, yang diinginkannya adalah membawa putrinya untuk turut bersimpuh dan mengecupi kaki ibunya.

Kini ia tahu alasan kenapa ibunya membiarkannya hidup, meski dunia senantiasa tak sudi disetir. Ia tahu kenapa ibunya mendatangkannya kehidupan kendati segalanya tak akan berjalan selancar apa yang direncanakan. Ia tahu, mengapa ibunya memilih melanjutkan, sekalipun memiliki kuasa untuk menghentikan putaran ini.

Sebab, kini ia merasakannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: