Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Takut

Prompt: Deimos
Jumlah Kata: 500

Seorang anak berambut keriting yang memandang angkasa tiba-tiba membelalak. Bakal santapan berupa seekor burung gereja yang ditangkapnya harus gagal masuk perut karena dilontarkannya ke tanah.

Sementara dia mengegas langkah secepat mungkin, sembari menyerukan satu kata berkali-kali:

“Takut! Takut! Mereka datang lagi!”

Sistem pertahanan yang baru dibentuk dua hari lalu kembali tergunting kocar-kacir dan terancam hancur berkeping-keping. Tiada waktu untuk makan atau tidur hari ini.

Kemudian satu ledakan besar terdengar. Dedebuan berterbangan dan tersebar. Kehancuran besar.

Katanya seorang anak manusia terlahir ke duni tanpa dikaruniari kegentaran, selain rasa takut naluriah pada suara keras dan kejatuhan.

Barangkali benar. Sebab anak-anak yang bersembunyi di bawah jembatan yang tak jauh dari titik kehancuran hanya takut akan satu hal: bunyi ledakan sesuatu yang dijatuhkan pihak seberang. Yang bertalu-talu memekakkan telinga. Hingga setiap membuka mata, mereka berharap hari itu juga kiamat tiba. Biar segala kengerian yang terbit di dalam dada dan melesak naik ke permukaan dalam tumpahan air mata terhapus sekalian.

Sehari lalu, ketika kedamaian datang untuk sementara waktu, anak-anak itu sempat berkumpul dalam kegelapan untuk mengobrolkan hidup. Bahkan sekadar api unggun untuk memanggang buruan dan membawakan kehangatan pun tak ada di sana. Mereka takut itu akan membawakan ledakan dan kejatuhan lain. Biarlah mereka dipeluk kegelapan, kedinginan, dan kelaparan, asalkan semua itu menjalin kedamaian.

“Mereka tak benar-benar ingin kita mati,” kata seorang anak. Kulitnya lebih putih dibandingkan yang lain. “Yang mereka nikmati hanya bagaimana kita lari terbirit-birit.”

“Tidak,” sergah yang lain. “Mereka ingin kita mati menyusuli orang tua kita. Cuma kita yang tersisa di sini. Begitu kita lenyap, mereka bisa menguasai tempat ini.”

“Memangnya tempat ini punya apa sih?” tanya seseorang. “Tak ada yang dikandung oleh bumi di sini. Emas? Keuntungan? Kalau ada, seharusnya kita sudah kaya sejak dulu.”

“Tapi kalau itu benar. Seharusnya kita tidak kabur. Aku tidak takut mati. Aku tidak takut mereka merebut apa pun yang tidak kita ketahui.”

“Aku juga tidak.”

“Kupikir mati akan membawa kita bertemu Ayah dan Ibu. Maka aku pun tidak takut mati.”

Namun, kembali ke momen saat ini, di mana mereka masih berlindung dari kepulan debu yang menciptakan kabut, mereka paham bahwa mereka masih ketakutan.

Suara batuk-batuk terdengar di antara gema yang mulai lenyap.

“Kau bilang kau tak takut mati.”

“Aku memang tak takut mati. Yang kutakuti itu suara keras yang mereka hasilkan.”

“Tapi tidakkah kau tahu? Kalau mati, kita tak perlu lagi merasakan ketakutan itu.”

“Jadi, apa yang membuat kita bertahan hidup di sini?”

Dalam kabut yang mulai menipis terbawa udara, mereka saling berpandangan. Mencari keyakinan dari masing-masing sorot mata. Ada riak ketakutan yang masih terpancar. Bagaimana jika maut tak membawakan mereka apa-apa? Bagaimana jika kematian justru mendatangkan suara keras dan kejatuhan lain?

“Aku … tidak takut mati.”

Seorang anak mendahului. Dia bangkit dari balik kabut, dan berjalan keluar persembunyian. Tak ada yang akan mereka sesali jika mati. Sekalipun ada kemungkinan bahwa akan ada suara keras dan kejatuhan lain di dunia seberang, mereka tinggal menjemput kematian berkali-kali. Memadamkan diri dari rasa takut yang mereka ketahui.

Anak-anak lain menyusul. Tak lama kemudian, terdengar ledakan susulan yang lebih keras dari sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: