Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Selamat

Prompt: The Thin Ice
Jumlah Kata: 500

Tiba-tiba penyesalan membungkus Pertapa. Sesal karena telah sembrono mengikutsertakan diri menantang nasib dan mempertaruhkan segalanya.

Kemarin, seseorang dari entah, datang ke desanya yang nyaris ludes ditelan Bumi. Bagai Mesiah, ia menawarkan keselamatan bagi siapa pun yang percaya.

Hampir semua warga memutuskan meyakininya. Dalam karut-marut kehidupan, secercah janji akan cahaya adalah koin emas, kendati itu pun masih butuh diundi. Entah benar atau tidaknya keselamatan yang disumpahkannya, yang penting warga mendapatkan apa yang telah lama musnah dari sanubari. Sesuatu bernama harapan.

Demi menjemput harapan itulah, Pertapa hadir di sini. Terik dan dingin berbaur bersama. Mempermainkan diri. Membekukan akal, menguapkan kendali sendiri. Padahal mereka baru berdiri di tepian garis mulai.

Mesiah mengumumkan kedatangannya dengan tepuk tangan.

“Pertama-tama, yang harus kalian lakukan adalah menarik satu yang satu dari satu. Asal kalian tahu, begitu kaki kalian menginjak garis itu, sudah tak ada lagi jalan kembali.”

Mesiah kembali menghilang. Meninggalkan desas-desus dan kabut kebingungan. Menjelma udara yang menontoni dari kejauhan.

Sesuatu yang panas tahu-tahu memecut bokong Pertapa, juga saudara-saudaranya. Jika tak bersegera angkat kaki, mereka sudah hanyut dilalap api.

Api itu mengejar hingga ujung jalan. Beberapa kawanannya terjatuh, tak teraih, dan musnah. Sengaja dipertontonkan biar jadi motivasi tambah.

Hingga kayuhan itu membawa mereka menjumpai ladang tandus. Yang membentang di depan mata mereka adalah fatamorgana akan surga yang hanya satu.

Beberapa yang cukup pintar, termasuk Pertapa, berbondong-bondong memasuki fatamorgana itu. Sekejap mata, surga berubah menjadi sabar yang melebur menjadi huruf-huruf melayang.

Ingat akan perintah, Pertapa memetik S. Mereka yang salah memilih atau serakah langsung diseret keluar menuju ketiadaan.

Perjalanan ini rupanya belum berakhir. Messiah kembali memunculkan diri.

“Selamat untuk tantangan pertama yang sudah dikantungi. Masih ada lainnya yang menanti. Kali ini, kalian perlu merabai lubuk hati. Sesuatu yang datang dari sana, itulah kunci.”

Seperti tadi, Messiah kembali lenyap. Mulut kegelapan datang mengisap, membuat Pertapa berlarian. Beberapa orang berjalan terantuk dan pincang. Salah satunya ambruk di sisi kaki Pertapa dan memohonkan bantuan.

Sejenak Pertapa bimbang. Namun, ketidaktegaan mendorongnya menyeret si pincang di pundaknya. Kata terima kasih terlontar dari lisan si pincang, lalu berputar-putar dan membentuk empati. Cahaya yang dioancarkan huruf pertama membuatnya dipungut Pertapa.

Si pincang tiba-tiba meletus dan lenyap. Berikut pincang-pincang lain, sekaligus yang menolak membantu mereka. Bulu kuduk Pertapa meremang, menyadari dia nyaris bernasib sama jika mengabaikan empati.

Messiah tak tampak kini. Hanya suaranya yang memunculkan diri.

“Batu di depan akan membungkus kalian. Intinya, ikhlaskan segalanya.”

Batu-batu betulan mencuat dari tanah yang dipijaki, naik hingga angkasa. Menjelma jaring-jaring yang memisahkan satu dari yang lain. Tak ada jalan keluar ke mana-mana.

Pertapa mencoba mengiklaskan. Mungkin sudah waktunya dia mati. Yang lain mendobrak batu, tapi berakhir dilumat seperti bawang yang digeprek ulekan. Dari hati pertapa, muncul legowo bercahaya yang kemudian melayang di udara. Tangan Pertapa memungutnya.

Seketika dua huruf yang sudah ada di dalam sakunya ikut berbaur, lalu pecah. Sesuatu melayang dari asap ledakan. Telapak tangan Pertapa yang menengadah menangkapnya dalam genggaman.

Matanya mengerjap.

Sebuah kunci bertuliskan SEL-amat.

Ragu, pertapa memasukkan benda itu ke lubang batu. Begitu memutarnya, Pertapa tahu, janji Messiah memang benar adanya. Pertaruhan nasib dan perjuangannya meniti harap yang mustahil, nyatanya tidak sia-sia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: