Suara kucuran dihasilkan dari partikel air yang menyentuh lantai. Sebelum ceklekan dan derit pintu di belakang sana menyela dominansi bebunyi.
“Pukul sebelas, waktunya tidur! Hei, kenapa kau masih terjaga? Cepat bereskan dan lekas tidur! Jangan lupa, Om Herman minta kaulayani subuh-subuh!”
Pintu mengatup disusul keran yang turut berputar menutupi jalur air. Kini yang tersangkut di udara hanya keheningan.
Perempuan di sana mengangkat muka. Pantulan di permukaan cermin itu penuh jerawat dan bekas luka. Penampakan asli usai pori-porinya megap-megap minta udara. Terbekap riasan tebal yang tak boleh luntur akan keringat berjam-jam atau sepanjang malam, tentu melelahkan bagi kulitnya.
Pukul setengah dua belas malam ketika akhrinya dia menaiki pembaringannya yang damai. Besok subuh, ranjangnya akan kembali berderit dan menandak-nandak lagi.
Sebelum semua perputaran itu dia hadapi, ada ritual lain yang perlu perempuan itu lakukan. Panggilan sebelum tidur, panggilan sampai tertidur, panggilan yang membawakannya tidur.
Jika tidak, kehidupannya yang busuk akan turut merasuki alam mimpinya, hingga menghasilkan rentetan hari buruk yang berkesinambungan bagai kartu domino. Padahal, mimpi adalah satu-satunya jalan hidup yang bisa dia kendalikan.
Bos yang mereka panggil Bunda adalah wanita galak yang tak pelak menempelkan telapak tangan pada pipi mereka jika pelanggan mengeluh tak puas. Namun, dia juga rutin sediakan pelatihan-pelatihan menarik untuk mempertebal mental mereka. Meski itu pun agar bisa dia kikis lagi. Meski itu pun biar mereka tak pernah menangis lagi. Meski untuk membayar penyuluh nanti dia akan paksa mereka bekerja lebih anar-kis lagi.
“Menangis hanya membuat mata dan wajahmu bengkak. Pelanggan kita takkan doyan itu,” kata Bunda selalu.
Berbekal keluhan pekerja-pekerja soal mimpi buruk yang rutin bertandang bahkan saat sedang melayani pelanggan, sepekan lalu Bunda datangkan seorang penyuluh bahagia. Dalam orasinya, Si Penyuluh memberi solusi mengendalikan mimpi dengan menelepon orang yang dicintai atau memeluk hal-hal indah. Berkatnya, sepekan di wisma itu telah berlangsung dengan nyaman dan damai.
Bagi perempuan yang kini terbaring dan bersiap memulai ritual, tak ada yang indah kecuali kenangan. Tak ada seorang pun yang tersisa di dunia untuk dia panggil, kecuali mereka yang hanya diawetkan dalam ingatan.
Malam ini pun, usai selimut tebal menyelubunginya seperti bayi, ia panggil kenangan-kenangannya dari dalam laci dan almari sanubari. Perlahan mereka berterbangan, mengitari, menggelantung riang di langit-langit kamar.
Suara Ayah ketika membelikannya sepeda baru yang mahal.
“Ini untuk kerja kerasmu menjadi anak baik selama ini.”
Suara Ibu ketika memujinya perihal peringkat yang dia dapatkan.
“Terima kasih karena sudah jadi anak kami yang gemilang.”
Suara Ayah ketika mengetahui dia masuk ke sekolah terbaik di kotanya.
“Selamat, kamu pantas mendapatkannya.”
Suara Ibu ketika meninabobokannya.
“Semoga kebaikan menyertaimu dalam terjaga maupun mimpimu.”
Sebab di dunia nyatanya, kegemilangan, kecerdasan, kebaikan, dan kepantasan yang mereka obrolkan, telah ikut dibawa orang tuanya pergi. Hanya dalam alam mimpi dan genang kenangannyalah mereka bisa kembali berkumpul. Lalu dia akan peluk mereka semua bersama rindunya yang terlepas tuntas.
Berkatnya, hatinya yang berlubang kala terjaga, karena digerogoti dengki tiap melihat anak-anak perempuan lain hidup normal, mampu ditambal satu demi satu.
Berkatnya, esok dia mampu menyambut sengat matahari dan sengitnya anergi di bawah kurungan pelanggan, tanpa perlu jadi gila lagi.
