Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Penculik Rembulan

Prompt: Red Moon
Jumlah Kata: 500

Aku melihat seorang lelaki menculik rembulan dari angkasa. Dengan tangan menggenggam gunting rumput, dia cukil benda bulat itu hingga berdarah.

Berkali-kali kudengar rintihan ‘Maaf’ dari mulutnya. Kutahu, kata itu ditujukan bagi rembulan dan angkasa malam, yang barangkali kesakitan karena harus diceraikan.

Merah dari darah rembulan merebak. Merembesi langit. Menetes di laut. Beruntung kadar air di sana terlampau banyak untuk dicemari. Tapi ini tetap momen bagi predator untuk berpesta pora. Hiu di lautan kekenyangan. Serigala berkeliaran mencari mangsa. Gagak mabuk aroma kematian.

Sementara langit berusaha menutup bekas luka kemerahannya dengan kegelapan, lelaki pencuri susah-payah memikul benda bercahaya di tangannya.

“Perlu kubantu?” tawarku.

Entah ini akan dikenai pasal pidana atau tidak. Namun, sejauh ini tak pernah kudengar berita orang dilesakkan dalam sel tahanan karena menculik rembulan.

Lelaki itu terjengkang, hingga nyaris menggelincirkan rembulan dari pelukannya.

“Maafkan aku.” Lirihannya bercampur desiran angin. Wajahnya sepucat langit yang terluka malam ini. “Aku perlu meminjamnya sebentar.”

Kuangkat pundak, gestur bahwa aku takkan menghakiminya. Sebagai gantinya, kubantu ia membopong rembulan masuk ke mobilnya. Cahaya yang benderang menampar wajah kami. Membuat kami lebih terang dibanding lampu mana pun.

Lelaki pencuri bertanya aku hendak ke mana, dan kujawab aku tengah mencari tumpangan pulang. Ia tawarkan aku membersamainya, bahkan memberiku kesempatan singgah ke rumahnya.

Kutanya kenapa. Dijawabnya, “Kamu sudah menangkap basah aku sekarang. Harusnya kujelaskan apa yang membuatku melakukan ini.”

Perjalanan kami memakan waktu cukup lama. Rumah si lelaki terletak di area yang jauh dari pemukiman. Tiada tetangga yang bisa dimintai pertolongan andai rumahnya diterpa musibah.

Berdua kami bopong rembulan ke dalam rumah. Samar-samar terdengar suara rintihan perempuan dari liang pintu. Menangkap keraguanku, lelaki pencuri mengajakku terus masuk ke sebuah kamar.

Di sanalah seorang gadis belia terbaring kesakitan. Gurat kelelahan dan peluh membanjiri sekujur tubuh yang tampak muram.

“Putriku selalu seperti ini setiap bulan. Cara menyembuhkannya adalah mendatangkan rembulan padanya.”

Bulan digelindingkan mendekati gadis itu. Tangan yang semula mengusapi perut beralih memeluk rembulan, seperti mendekap seorang sahabat jauh. Bagai berjumpa eliksir, perlahan suara rintihannya berkurang, lalu sungguhan hilang. Gurat kesakitannya pun tak lagi menyisa.

Telapak tangan lelaki pencuri mengusap kepala putrinya dengan sayang. Telapak tangan si putri menepuk rembulan penuh terima kasih. Sedang aku satu-satunya yang mencoba memahami situasi, duduk kikuk di kursi bagai pajangan.

Remaja perempuan yang telah pulih akhirnya menangkap kehadiran seorang asing di rumahnya. Lewat tatapan mata, dia bertanya pada ayahnya.

“Dia membantuku membopong rembulan untukmu,” jawab ayahnya.

Tatapan lembut gadis itu jatuh pada mataku.

“Terima kasih telah membantu ayahku. Sejak Ibu tiada, Ayah satu-satunya yang bisa kuandalkan.”

Kubilang padanya, ini bukan apa-apa.

Si putri kini sudah betul-betul sehat. Seolah sebelumnya tak pernah sekarat. Turunlah ia dari ranjangnya, menggamit lengan ayahnya dengan semangat.

“Waktunya mengembalikan bulan, Ayah. Terima kasih sudah mau melakukan ini.”

Lelaki pencuri tak berkata apa-apa, tapi sorot matanya mampu kubaca. Kalimat ‘Akan kulakukan apa pun untukmu’ terpantul jelas bersama binaran di sana.

Bertiga, kami bopong rembulan ke mobil. Kusertai mereka hingga putri lelaki itu menjahit kembali rembulan yang dipinjamnya ke angkasa untuk bisa dinikmati sama-sama oleh semua orang. Malam pun memulihkan cahayanya, seperti sedia kala.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: