Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Seroja

Prompt: Lotus Putih
Jumlah Kata: 500

“Seroja mau jadi insinyur.”

Awalnya selalu gelak tawa yang menyambut kalimat itu. Orang-orang di sekelilingnya tak percaya Seroja mampu mewujudkan mimpinya. Ibunya, teman-teman ibunya, nyonya dari ibunya.

“Bangunlah dari mimpimu, Nak. Tak kau miliki kesempatan itu. Kusekolahkan kau sampai SMP, lalu aku pensiun. Gantikan aku bekerja di sini.”

Sebab ibunya hanya seorang pelatjur. Dan Seroja cuma anak haram yang lahir dari rahim pelatjur di sebuah rumah bordil. Yang hidupnya ada, semata berasaskan keengganan mucikari untuk menambah dosa dengan tindak pembunuhan. Seroja adalah buah yang bahkan pohonnya pun tak mampu ibunya identifikasi.

Suatu kali Seroja bertanya, kenapa ibunya memilih melahirkannya.

“Waktu itu aku bertaruh. Kalau laki, kau bisa kujadikan alasan kabur. Kalau perempuan, kau bisa menjadi alasanku tinggal. Karena kau perempuan, maka jadilah penerusku.”

Alasan yang Seroja rasa tak adil hingga membangkitkan semangat bertaruhnya sendiri. Dia akan buktikan pada ibunya, hanya karena dia perempuan, bukan berarti mereka harus selamanya terkurung di tempat ini.

Di sekolah, tiada seorang pun yang sudi jadi temannya. Takut tertular penyakit ‘haram’ yang selalu mereka jadikan alasan dalam mengolok-olok Seroja. Padahal Seroja adalah siswi berotak gemilang. Kemampuan ini yang membuatnya berasumsi, ayahnya adalah klien dari golongan cendikiawan.

Akan tetapi, Seroja pantang putus asa. Dia kukuh menolak meneruskan jejak ibunya, dan percaya pada kekuatan kerja keras di dunia. Berbagai perundungan dihadapi Seroja dengan kepala tegak dan muka setebal bata. Dia sumpal kedua telinganya dari cerca, dia bungkam mulut teman-teman dengan prestasinya. Peduli setan mereka mau bilang apa, Seroja akan tetap jadi insiyur seperti impiannya.

Prestasi dan kekeraskepalaan Seroja membuat ibunya trenyuh. Kadangkala, wanita itu menangis karena paham betapa dunia tak akan berpihak pada orang seperti mereka. Meski mulut masih berkata tidak, hatinya mendoakan agar putrinya mampu mencapai impiannya.

Semasa sekolah, Seroja diam-diam buka joki tugas. Bayaran dari kawan-kawan berlebih uang tapi kekurangan otak, ditabungnya untuk biaya pendidikan lanjutan kelak. Biar ibunya tak perlu pusing memikirkan apa-apa, selain bagaimana memuaskan pelanggan yang bakalan menguras daya.

“Kalau Ibu tetap mau Seroja meneruskan pekerjaan Ibu, Seroja bisa tetap sekolah sambil kerja di sini. Ambil klien malam, sekolahnya pagi. Beres, ‘kan?”

Kebungkaman serentak menjadi respons orang sekitar akan kalimat itu. Mereka tak percaya betapa polos pemikiran Seroja akan hidup. Ibunya, teman-teman ibunya, nyonya dari ibunya.

Akhirnya, ibunya mengalah. Akan dia ulur waktu pelemparan jabatan ini tiga tahun lagi, sampai Seroja lulus SMK. Setelah itu, Seroja wajib bekerja di sini.

Seroja tak mengendurkan semangatnya bahkan setelah mendapatkan perkenan. Sesuatu yang membangkitkan rasa kagum di hati nyonya dari ibunya, sang mucikari. Tanpa sepengetahuan ibu Seroja, ia membantu anak yang telah dianggapnya cucu itu untuk mendapatkan beasiswa dari kliennya.

“Kau cerdas, Nak. Dan kau tak pantas ada di sini. Pantasnya kau terbang tinggi.”

Melihat nama Seroja berada di daftar mahasiswa teknik universitas negeri tanpa melalui tes akademik, ibu Seroja menangis histeris sampai pingsan. Teman-teman ibunya pingsan. Nyonya ibunya ikut pingsan.

Hanya Seroja yang tak menangis. Tangisannya dipendam hingga empat tahun kemudian, ketika semua orang dipeluknya erat-erat di rumah bordil mereka, yang untuk pertama kalinya mengadakan syukuran demi kelulusan Seroja. Ibunya, teman-teman ibunya, juga nyonya ibunya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: