Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Banjir

Prompt: After The Rain
Jumlah Kata: 500

“Terlahir dari rahim orang miskin bukan salahmu. Salahmu adalah mati dalam kondisi yang sama.”

Kalimat motivator yang dicuri dengar dari televisi tetangga menjadi pecut bagi semangat Nada dalam menjalani hidup.

Pantang baginya berkubang di tengah badai yang sama. Status orang dusun, orang tua tak berpekerjaan tetap, jarang makan nasi apalagi berlauk-pauk, dan tidur berdesakan di bawah tumpukan seng beralaskan kasur tipis berkutu busuk, sudah cukup menjadi daftar deritanya.

Nada bertekad membenahi diri. Tak apa makan seadanya, intinya dia bisa tampil cantik demi menggaet hartawan. Uang hasil berjualan suara dan minyak wangi lebih banyak digunakan membeli perawatan tubuh ketimbang mengisi perut.

Pikiran Nada tak lagi berada di sini. Demi keluar dari rumah busuk dan keluarga bobrok, segalanya akan dia lakukan. Termasuk menggoda lelaki beristri yang usianya sepantaran ayahnya.

Haji Darmawan, namanya. Meski Darmawan dan sudah haji, sosok itu tergolong pelit di desa. Dalam setahun, hanya sekali dia memberi, yaitu saat Idul Fitri.

Bagi masyarakat lain, kekikiran Darmawan adalah sumber kemandulannya. Belum lagi istrinya yang kadar kegalakannya mengalahkan anjing herder yang menjagai rumah Kepala Desa. Siapa pun yang mendekati dan mengganggu mereka, bakal disumpahi tujuh turunan olehnya.

Kata warga, “Wajar kau tak dikasih-kasih anak sama Tuhan meski udah setua ini. Ya kau sendiri tak ngasih apa pun sama orang lain. Belum lagi binimu yang suka menzalimi kami. Tuhan juga nggak mau baik-baik, toh nanti anakmu malu sendiri.”

Namun, bagi Nada, kekikiran dan kegalakan mereka adalah yang tantangan tersendiri yang menanti untuk ditaklukkan. Dia tahu masa depannya akan cerah jika berhasil mendapatkan Darmawan.

Siasat awal Nada adalah mendekati istri Haji Darmawan terlebih dahulu. Hajah Sarah, demikian ia biasa disapa. Bermula dari bisnis jualan minyak wangi khusus, kemudian saling berbagi gosip dan rela membela Hajah Sarah di depan warga, sudah cukup mengambil hatinya. Hajah Sarah menganggap Nada sebagai sahabat. Tidak tahu bahwa Nada akan menusuknya dari belakang.

Suatu malam badai turun. Angin menderu-deru dan listrik sekampung dipadamkan. Kediaman orang tua Nada hancur. Atapnya terbang, dindingnya tumbang, barang-barangnya hanyut terbawa banjir. Nada minta bantuan Hajah Sarah yang pada akhirnya sudi membantu sebagai balas budi. Ditampungnyalah Nada di rumah mereka, tetapi tidak untuk sisa keluarganya. Orang tua dan saudara Nada harus minggat ke tempat pengungsian.

Salahnya sendiri, Nada membatin. Hingga malam berbadai kesekian, Nada mendapat kesempatan berduaan bersama Haji Darmawan. Dari sana, perut Nada terisi oleh bayi. Darmawan senang akan fakta bahwa bukan dirinyalah yang infertil, melainkan sang istri. Dengan perut Nada yang menggembung, pesta pernikahan diadakan di desa itu.

Rupanya, Nada salah perhitungan. Semua harta Darmawan adalah milik Sarah. Sarah yang ini bukanlah Sarah-nya Ibrahim yang rela dimadu. Gara-gara berselingkuh, Nada dan Darmawan tak diberinya harta sepeser pun. Keduanya diasingkan baik oleh Sarah, orang tua Nada, maupun warga setempat.

Kini Nada paham. Sehabis malam berbadai, yang terbit bukanlah pelangi yang menyertai rekahan mentari. Melainkan kehancuran di mana-mana, yang harus dituainya karena keliru menafsirkan.

Namun, kepada anaknya, dia tetap berpesan, “Terlahir dari rahim orang miskin bukan salahmu. Salahmu adalah mati dalam kondisi yang sama.”

Siapa tahu, anaknya bisa membalaskan dendamnya pada dunia ini, suatu saat nanti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: