Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Rahasia

Prompt: Find A Way
Jumlah Kata: 500

Tangan kananku tiba-tiba memegang sebuah komik.

Namun, ingatanku melompong.

Sejak kapan? Kenapa komik itu kugenggam?

Aku juga tidak ingat bagaimana hingga aku terduduk di ruang senyap ini.

Lagi pun, ruang apakah ini? Dindingnya dipoles putih dan hampa. Satu-satunya yang bermotif di sini hanyalah buku komik yang rupanya sudah terbuka setengah jalan.

Mungkin pula tubuhku. Tapi, siapa dan apalah aku ini?

Kuhidu bau komik. Wanginya tahu-tahu melesak ke kepala dan menyalakan satu lampu memori.

Kini aku tahu apa aku. Aku manusia yang punya nama. Namaku … sebentar, biar kuhirup lagi aroma kertas yang menyenangkan ini. Baik, namaku …

“Aku.”

Kujauhkan buku dari indera penciuman. Berpikir sejenak akan keanehan yang kuserap dari dalam komik. Begitu membalik halaman demi mengintip sampulnya, tak kudapati hal berkesan selain latar putih bertuliskan …

“RAHASIA?”

Dahiku mengerut. Mulut mengerucut. Sesuatu membuatku tak suka, tapi gambar dalam lembar isi buku ini menarik juga.

Aku mulai membacanya, dan kutemukan Aku yang hidupnya serba menyenangkan.

Aku lahir dalam keluarga yang penuh tawa. Setiap hari disodori kemewahan jasad dan ruhaniyah. Selalu bermimpi dan berpikiran indah, seakan dunia diciptakan sebagai lumbung rezekinya.

Kian kubaca, gambar dan jalan ceritanya semakin menghanyutkan. Seakan aku dan Aku adalah satu yang padu.

Saat itulah lampu lain di kepalaku menyala. Aku teringat keinginanku untuk jadi tokoh komik. Tokoh yang separah apa pun hidupnya terjalin, segalanya akan baik-baik saja di tangan sang penulis skenario. Berbeda dengan hidup di dunia nyata yang serba dirahasiakan. Tuhan yang rahasia. Rahasia-Nya yang rahasia. Takdir dan jalan hidup yang rahasia.

Ingatanku menyibak satu hal lagi. Aku tak pernah menyukai rahasia. Lalu kusadar, rahasia hidupku dan hidup Aku dalam komik Rahasia berbanding terbalik.

Ibu bertemu Ayah karena rahasia yang mereka bina bersama. Kehadiranku adalah sebuah rahasia yang tak boleh diketahui banyak orang. Ayahku máti dibùnùh karena berusaha mengulik rahasia orang ternama, kemudian ibuku menyusul karena digerogoti penyakit yang dirahasiakannya.

Berbagai hal tentang rahasia selalu berakhir buruk.

Tapi,

Tapi …

Tapi …

Buku Rahasia ini oke juga.

Mungkin ialah satu-satunya Rahasia yang bisa kukategorikan bagus.

Sayang, bacaan ini berhenti pada si Aku yang menyadari bahwa apa yang dibacanya adalah jalan hidupnya sendiri. Hanya sampai di sana, cerita itu terputus. Lembar selanjutnya hanya diisi kehampaan yang putih.

Satu suara ‘Tring’ berdenting lagi di kepalaku. Membawa sebohlam lampu lain yang menyala benderang, cukup terang untuk membuatku tahu bahwa kini, aku punya cara untuk menuliskan kisah hidupku sendiri.

Sebatang spidol di sisi siku kuraih. Ujung lunaknya sudah cukup untukku menoreh jalan hidup. Biar kubuat Aku hidup berkalang suka dan berkalung bunga selama-lamanya. Seiring jemariku yang bergerak, gelegak tawaku berserak, dan aku menyaru sebagai Aku, yang senantiasa berbahagia.

Seseorang masuk dari balik pintu yang semula terketuk tapi tak kusadari. Melihatku yang bergembira, dia mematri senyum di wajahnya.

“Apa kau bahagia hari ini?”

Kuanggukan kepalaku. “Tentu saja. Aku selalu dan akan bahagia selamanya.”

“Aku penasaran bagaimana caramu mendapatkan kebahagiaanmu sekarang. Kau tahu, kemarin-kemarin, kau terlihat muram.”

Kukedipkan mata sambil mengulum senyum. “Rahasia.”

Dia tertawa. “Baiklah, kalau itu rahasia. Sekarang, saatnya minum obat biar kau bisa istirahat lebih nyaman malam ini.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: