Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Harga

Prompt: Meminjam Waktu
Jumlah Kata: 500

Jam kukuk di pintu kaca bernyanyi. Ratusan kali. Setiap hari.

Tempat ini takkan miskin pelanggan.

“Silakan pilih jasa berikut: membeli atau menjual waktu?”

Siapa bilang uang tidak mampu membeli waktu? Sisa hidupmu pun bisa kaugadaikan di sini. Baik yang girang, maupun yang malang. Asal kaurelakan segenap masa usiamu didedah dan dibedah.

Yang sedang berdiri di depanku kini sesosok wanita paruh baya. Dandanannya mentereng dan berkilauan. Kepadaku, dia meminta untuk dicek saldo usianya.

“Kalau tinggal sedikit, mau kutambal. Beri aku masa hidup terbanyak yang kalian miliki. Lima puluh tahun? Seratus tahun?”

Kupampangkan senyum nan diplomatis. “Lima puluh. Silakan menuju customer service untuk proses pengajuannya.”

Selanjutnya, datanglah seorang gadis bermuka muram. Kepada kami, dia minta diambil semua sisa hidupnya.

“Apa ada anggota keluarga untuk didistribusikan?”

Sahutnya tegas, “Donasikan saja. Tak ada siapa pun. Bahkan tak seorang pun akan menangisi jenazahku. Semuanya sibuk dengan hidup sendiri. Tak sudi menengokku barang sekali.”

Kepulangannya diekori tatapan prihatin sepenjuru ruangan. Berikut doa agar anak itu tak memiliki penyesalan apa pun hingga esok hari; batas yang kami sisihkan baginya sendiri.

Dan, benar saja. Esok paginya, anak yang sama merangsek masuk memikul penyesalan. Kami dimintanya mengembalikan waktunya yang telah terbuang sia-sia.

Dengan sopan kutolak, “Mohon maaf. Transaksi yang sudah berlalu kemarin tak bisa dikembalikan lagi. Tenggat waktu Anda pun sudah terlalu dekat.”

Anak itu menangis pilu. “Ibuku tiba-tiba datang meminta maaf karena sudah mengabaikanku. Dia menawariku untuk tinggal bersamanya! Bagaimana aku bisa pergi begitu saja? Aku belum membalaskan dendam!”

Sayang, aturan tetaplah aturan. Satpam harus dikerahkan demi memboyong anak itu keluar. Bersamaan dengan suara raungannya yang lindap ditelan jarak, seorang lelaki tua memasuki liang pintu.

Langkahnya yang tertatih harus ditopang kayu yang rapuh. Lelaki ini sudah amat sepuh. Rambut dan giginya hampa, hingga kukira dia datang untuk membeli usia, sebagaimana para orang tua lainnya.

Ternyata yang ia lakukan justru sebaliknya.

“Kujual sisa waktuku, berapa detik pun yang tersisa. Tolong, berikan aku uang. Inilah satu-satunya yang bisa kulakukan untuk membantu putraku yang sedang kesulitan. Dia mungkin ke sini sebentar lagi, aku tak mau dia memangkas sisa usianya. Pangkas saja punyaku.”

Aku terjatuh dalam trenyuh, tapi permintaan nasabah harus tetap diproses.

Ajaib, saldo usia yang dimilikinya masih banyak. Membuatku tertarik mencari tahu apa saja yang dia lakukan selama ini.

Ia sanggupi permintaanku menunggu untuk kupindai kehidupannya.

Lalu relung memori nan menakjubkan memerangkapku.

Lelaki ini seorang veteran pejuang. Kematian demi kematian terkandung di matanya. Tangan ringkihnya pernah menghunuskan bambu runcing demi membasmi penjajah. Kakinya yang kini tak kokoh berdiri, dulunya pernah berlari sekencang kijang.

Kuinformasikan pada bos lewat telepon. Pintu di balik punggungku kemudian terbuka. Bos datang menjinjing kotak emas, sambil menghormat pada nasabah kami yang berharga.

“Silakan bawa ini.”

Lelaki tua mengerjap bingung. “Masih sebanyak inikah sisa hidupku?”

Hanya senyum terbaik yang kuulas sebagai balasan, sebelum lelaki tua hengkang diantar satpam.

“Masa hidupnya tinggal lima bulan. Tidak kau pangkas, ‘kan?” bosku memperingatkan.

Aku menggeleng mantap.

Bosku mendesah lega. “Waktu memang uang. Tapi kenangan yang kita selami darinya lebih sepadan dibayar emas. Semakin lama republik ini berdiri, memori perjuangannya harus semakin dihargai.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: