Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Janda

Prompt: Aluna (LOL)
Jumlah Kata: 500

Lelaki memang tampaknya asing akan pergunjingan. Namun, soal gadis cantik, janda kembang, atau link pemersatu bangsa, kecepatan merambatnya setara jaringan 10G.

Diam-diam. Di bawah lembah kegairahan yang terpendam. Tanpa menerbitkan kehancuran.

Kabar kematian seorang tetangga tersiar. Berarti, satu janda kembang direkahkan. Dia meninggal tanpa membuahkan anak, padahal bodi istrinya begitu bohay sempurna.

“Pilih gadis apa janda?”

Obrolan remeh di warung mengusik Toni si pendatang baru, belum tahu gosip-gosip terhangat daerah sini.

“Gadis. Tapi kalau dikasih janda juga boleh.”

Tawa bapak-bapak membahana.

“Di sini ada janda seger. Cantik, seksi, mantan biduan katanya, suaranya … beuh … sempurna. Datang dua bulan lalu, tapi suaminya mati sebulan lalu. Padahal dua-duanya masih muda.”

Alis Toni berjinjit separuh. “Nggih, Pak. Tapi kenapa saya dikasih info ini?”

Tepukan akrab merambah pundaknya. “Biar kamu pepetin. Bapak-bapak di sini mau, tapi sudah berpawang semua, gualak pula. Mumpung kamu bujangan cakep.”

Janda memang menggoyahkan iman. Apalagi setelah Toni melihat sendiri penampakannya ketika lewat di depan mata. Liur Toni sampai tumpah, saking tak sadar mulutnya menganga.

Wajah wanita itu secerah rembulan. Rambutnya sehitam malam. Suaranya seindah bisikan dari khayangan.

Di depan perempuan yang tengah berduka, akan lebih mudah mencari muka. Tinggal disayang-sayang dan dikasih perhatian.

Sayang, harapan Toni terlalu utopis. Pendekatan demi pendekatan dilalui, perempuan itu merespons dingin, meski suaranya tetap saja nagihin.

“Tiada laki-laki yang mengerti bahwa perempuan seringkali ingin sendiri. Selepas suamiku pergi, datang lagi yang lain.”

Dalam hati Toni menjerit, ‘Wuasem tenan, Rek. Pantes bapak-bapak di sini ndak berani, malah nyuruh-nyuruh aku.’

Sebagai lelaki berharga diri tinggi, Toni pantang mundur. Usaha rupanya tak mengkhianati hasil. Berbulan-bulan beri perhatian, wanita itu akhirnya luluh. Namun, sebagai syarat nikah dengannya, ia minta mereka pindah ke tempat yang jauh.

Mungkin ia mau menghapus kenangan indah bersama suaminya, pikir Toni. Toni iakan saja asal bisa bersama pujaan hati.

Padahal, faktanya perempuan itu menyimpan rencana.

Sejatinya dia tak punya nama asli. Kartu identitasnya terpaksa menuliskan Aluna. Toni hanya satu dari ratusan jiwa yang dia jerat untuk bertemu keabadian.

Sebulan setelah menempati rumah baru, Aluna menampilkan wujud aslinya. Reaksi Toni sama seperti suaminya yang sudah-sudah; kaget, syok, kecewa dan marah-marah karena sudah tertipu. Bagaimana tidak? Wajah yang dikira mulus bersinar setelah sebulan malah memunculkan bopeng menjijikkan. Toni bahkan bersumpah sempat melihat belatung menggeliat dari sana.

“Kau sendiri yang mau denganku, percaya dengan ekspektasimu, lalu kecewa. Kenapa bilang aku yang menipumu?”

Toni tak kuasa berada sekamar dengan istrinya. Pertanyaan Aluna yang disampaikan dengan tenang, malah diresposnya dengan membuang ludah. Tangannya sibuk memasukkan baju-baju pribadi ke dalam koper.

Anehnya, Aluna tertawa.

“Kau yang memilih datang, kau juga mau hengkang. Sayang, di sini tidak ada jalan pulang. Yang ada hanya jalan untuk menghilang.”

Tiba-tiba, Toni merasa kakinya memaku di tempat. Sedetik kemudian, ia ambruk, sebab lunglai tubuhnya berangsur merambat ke atas. Matanya memelotot menyaksikan rongga di wajah istrinya yang membesar dan merah, sebelum kegelapan membungkusnya.

Aluna memandang pantulannya di cermin. Kawah di pipinya baru menelan satu arwah lagi. Besok pipinya akan kembali ke sedia kala, dan dia kembali jadi janda, untuk merenggut nyawa lelaki mata keranjang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: