Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Day 22 – Adagio

KETIKA KAU MEREDUKSI spasi antara kita, aku hanya bisa diam terpaku. Menenggak saliva yang menderas tanpa sebab yang kutahu.

Rahangmu terkatup, tapi dari sana, bisa terbaca perintah agar aku tetap di sisimu. Matamu yang biru dan teduh adalah lautan yang menghanyutkanku. Bulu matamu yang panjang dan lebat menjadi penjelmaan dari rinai hujan yang sedang jatuh di luar.

Membersamai suara tumpahnya, debaran di dada menciptakan pawai. Riuh, gaduh, membuatku ingin mengaduh.

Kemudian, telapak tanganmu menyentuh daguku lembut. Napasmu yang hangat dan tenang menyapu wajahku. Hangat yang tak datang dari bara, melainkan asa.

Kutahu kau ingin aku. Aku pun ingin dirimu, dari segala keindahan yang dimiliki dunia. Dari segala-gala yang diciptakan Sang Maha.

Maka kuhirup udara sedalam yang mampu ditampung paru-paru; udara yang menguarkan wangimu dan membuat kakiku selemas agar-agar. Wangi yang kusuka.

Kemudian, terjadilah:

Sesuatu yang lembut dan lembab menyentuh bibirku.

Kemudian, terjadilah:

Seseorang yang entah dari dunia antah berantah memainkan alunan biola paling merdu yang pernah kutahu.

Kemudian, terjadilah:

Kita melayang melintasi awan, dan malaikat-malaikat, dan angkasa yang biru.

Kemudian, terjadilah:

Kau bungkusku dengan sayapmu, hingga kutahu engkaulah malaikat itu; seseorang yang diciptakan untuk dunia, tapi memilih membersamaiku.

Kemudian, terjadilah:

Segala hal paling indah yang pernah kukenal, dikumpulkan di momen ini, di titik ini, melebur menjadi kau dan aku.

Aku mendengarnya. Suara biola. Suara angkasa. Suara surga. Suara rasa. Suara cinta.

Dirimu indah. Musiknya indah. Dunia ini indah. Terpujilah Tuhan Yang Maha Indah.

Ketika jarak itu kau bawa kembali, senyum yang memesona tergantung di wajahmu. Mencairkan salju yang semula mengepung kakiku. Ada bintang yang terbit di bola matamu kini, seiring kepak sayap kupu-kupu yang mengacaukan irama napasku.

Bersama lenganmu yang melingkari tubuhku, kaulekatkan dahi kita, dan kudengar alam berbisik bersama bibirmu yang bergerak:

“Aku mencintaimu.”


Diikutsertakan dalam Gerakan Rutin Menulis 30 Hari (Gerimis30Hari) Ellunar Publishing

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: