Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Day 21 – Self-Healing

SEJAK PAGI, HARI Mu sudah rusak. Kemacetan menahannya tiba tepat waktu. Bus oleng dan rusuknya disikut orang asing. Denyutnya turut menemani Mu menadah muncratan ludah Si Bos.

Lalu selisih enam ratus satu ribu dari layar mengendurkan jam pulang hingga pukul sepuluh malam. Matanya merah oleh beban dan lelah. Dua algojo bermain jungkat-jungkit di pundak, membuatnya terbungkuk saat keluar bus kota paling akhir.

Masuk kamar gelap, pintu terkatup, dan pengedap melenyapkan suara-suara hingga senyap. Tas jatuh ke lantai, tapi para algojo masih betah menjadikan pundaknya taman main kanak-kanak. Tanpa ganti baju dan cuci muka, ia lemparkan bokong sendiri di atas kasur yang dingin. Tak ada lampu. Tak ada pelita. Dua matanya yang reduplah satu-satunya cahaya. Sebelum padam, sebab ia jatuh dalam pejam.

Lalu bahunya bergemelatak tanpa melahirkan suara. Bintang-bintang berjatuhan dari matanya, membelah gulita. Jemari Mu memungut mereka untuk ia gantung di plafon, dinding, lemari, dan cermin. Bintang-bintang menari dan bernyanyi, meloncat dengan hiperaktif, saling berpindah-pindah tempat. Mengelilinginya dengan lagu-lagu paling ceria yang pernah ia dengarkan.

Sepasang bintang mendekat. Kali ini mulut Mu dipaksa ikut membuka demi bersuara dan menembangkan nada. Awalnya tertatih, tak lama malah jadi fasih. Bintang-bintang lain turut mendekat, membungkus dua algojo yang menempeli pundaknya dengan gelembung pelangi. Para algojo limbung saat gelembung terangkat. Kemudian …

Plop!

Bintang-bintang memecahkan gelembung algojo di udara. Dari sana, jatuhlah hujan confetti warna-warni yang membuat Mu tertawa-tawa. Tepuk tangan makin girang, Mu kembali karib pada rasa tenang.

Tangan bintang-bintang menghadiahkannya peluk. Cahayanya menghangatkan hati dan jiwa, membuatnya kembali dalam pejam yang lebih dalam.

Waktu kesadarannya pulih, Mu terkejut pagi sudah datang. Cermin di dinding menampilkan pantulan diri sebagai zombie bermata bengkak, tapi bibir si zombie melengkung ke atas. Algojo yang duduk di pundaknya musnah sudah. Karena pesta semalam, ia bisa jemput hari baru dengan semangat baru.


Diikutsertakan pada Gerakan Rutin Menulis 30 Hari (Gerimis30Hari) Ellunar Publishing

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: