Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Day 20 – Hygge

ADA TUMPAH BADAI yang ricuh di luaran, tapi kita asyik berpeluk. Jari-jemari terpaut, senyum-senyum terkembang, dan sepotong lagu ceria ditembangkan anak-anak. Sesekali kau goyangkan tubuh ikuti irama. Lalu gelak tawa pecah membahana.

Kauminta anak-anak duduk dan berkisah. Kini saatnya kita yang dengarkan celoteh mereka. Tentang petualangan mereka menyibak rahasia-rahasia. Atau kucing mana lagi yang mereka jumpa dan diberi sesuap cinta. Barulah saatnya tiba: kita gumamkan petuah-petuah tua.

Tentang hidup. Tentang rumah. Tentang kasih. Tentang rasa. Tentang dunia.

Tak ada televisi yang menyala selain mata-mata yang penuh warna dan cerita. Tak ada buku-buku terbuka kecuali diri kita sendiri untuk dibaca sama-sama. Tak ada musik selain tembang yang kita lemparkan dan alunan gelak tawa. Tak ada games, metube, metflix atau segumpal hiburan yang perlu dikorek dari mana-mana. Kita saling menghibur. Kitalah hiburan itu.

Suara badai masih terdengar, dan karenanya kita saling berpeluk. Lebih erat, lebih lekat. Jangan kaukendorkan, takkan kukendorkan. Rumah yang kita huni bukan kediaman yang dibangun kilat. Bertahun-tahun kita menabung bahan bangunan. Ada kalanya macet-macet karena pertengkaran. Adakalanya kelewat lancar lantaran berkasih-kasihan. Kini adalah saatnya kita usahakan kestabilan.

Meski lama dibangunnya, kita tak pernah kecewa. Sebab kepercayaan yang kukuh lah pondasinya. Aku dan kau tahu itu, maka temalinya urung kita longgarkan biar tiada yang ambruk menimpa kepala. Tiap kita lupa diri, tinggal tengadah ke atap yang dibalut syukur; ia selalu sigap menadah tumpahan berkat. Tiap kita lupa diri, pandanglah ke bawah dan jumpai tanah; ia tetap utuh kendati menopang ribuan nyawa–tanpa pernah sekarat, tanpa ada kiamat.

Saat ini kita masih berpeluk. Berteko-teko kehangatan kita sesap tanpa pernah mabuk, mengalirkan kembang-kembang energi untuk keluar sebentar lagi dan menghadapi badai di luar yang terus berkecamuk. Dalam rumah yang diusahakan agar selamanya ramah, kita selalu aman.


Diikutsertakan dalam Gerakan Rutin Menulis 30 Hari (Gerimis30Hari) Ellunar Publishing

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: