Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Day 25 – Desember

SAAT SEMUA ORANG bergempita di bulan yang disebut bulan lahir sang pengasih, Delta sibuk membungkus kepala, mengasihani diri sendiri.

Kata mereka, bulan ini Tuhan turun, menjelmakan diri di tengah manusia. Bagi Delta, justru petakalah yang jatuh riuh ke atas kepala. Salju turun adalah duri yang menggempur rusuk. Desember adalah puncak segala siksa dan dinginnya dunia atas Delta.

Awal mula segenap bencana bernama kelahiran bagi Delta, ada di bulan ini. Lalu ibunya diangkut ke angkasa, belum dua puluh empat jam usai lahirkan Delta. Ayahnya pun menyusul beberapa tahun berselang, masih di bulan yang sama.

Desember adalah kesialan. Momen di mana Delta mengaduh di tengah gaduh, sunyi di antara ramai. Kolaborasi lonceng gereja, suara terompet, dan dingin salju adalah bencana paling sempurna yang melesakkannya dalam depresi.

Segalanya mulai berubah sejak ia kenal Dessy. Konon namanya Dessy karena terlahir pula di bulan Desember. Ia perempuan berkulit gelap yang mengaku berasal dari belahan bumi selatan. Selalu tabah menghadapi badai yang Delta ciptakan, rutin hadiahkan Delta senyum sembari membenahi kekacauan. Lalu menyuntikkan beberapa dosis obat penenang sambil bertutur,

“Tenang, Delta. Kau tak sendiri. Jangan pernah merasa sendiri.”

Sesekali ia jelaskan pada Delta jika lelaki itu tak sedang mengamuk, bahwa tidak selamanya Desember menghadirkan dingin bagi dunia ini. Di tempat kelahirannya, Desember adalah hangat musim panas. Dessy bisa pergi ke gereja, bertukar kado dengan keluarga, lalu berjanji piknik di pantai, berjemur dengan baluran tabir surya di bawah terik, menghirup udara asin yang mendamaikan, sambil dengarkan lagu-lagu Natal.

Ceritanya terus datang dan diulang, seolah Dessy tak bosan, meski balasan Delta hanya kebungkaman atau dengkusan.

Frekuensi cerita Dessy mendatangkan keajaiban. Kalimat itu lama-lama terasa hangat. Seperti matahari yang bertakhta jaya di belahan bumi selatan tiap Desember. Mencairkan bongkah salju di hati Delta, membuatnya mampu menerima ketidaksendiriannya.

Tahun ini, sukacita Natal di tempat mereka melibatkan Delta. Meski masih tak suka salju, dan jantungnya berdebar tiap mendengar bunyi lonceng, ia bisa lengkungkan senyum, bertukar kado bersana Dessy dan kawan-kawan lain di rumah sakit itu, sekalipun hanya secarik kartu ucapan berterakan tulisan tangan. Ia mengerti kini; kasih adalah sebongkah energi. Tak bisa dimusnahkan. Jika ia hilang, ia akan kembali dalam wujud yang lainnya dalam kehidupan ini.


Diikutsertakan dalam Gerakan Rutin Menulis 30 Hari (Gerimis30Hari) Ellunar Publishing

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: