Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Day 26 – Vestibula

PERGINYA ORANG TUA, hengkangnya kekasih, lenyapnya sahabat, membuat Omi kehilangan rumah.

Dunia menjelma rimba yang harus diarungi sendiri sekalipun tersesat. Berkelana tanpa kompas dan peta, entah untuk apa dan ke mana. Satu-satunya yang pertahankan kakinya tetap tegak melaju hanya karena ia tak bisa biarkan dirinya jatuh. Tapi tujuan langkahnya dikayuh, entah.

Ketiadaan atap lindung mengkaribkannya pada terik dan hujan. Hingga suatu ketika, Omi harus terperasak lunyai digempur badai. Kakinya terbenam lumpur isap tanpa daya untuk menariknya kembali. Ketika perutnya nyaris ikut dilahap, ada yang menariknya keluar dari bahaya. Pi.

“Kondisimu terlalu lemah. Biarkan aku membawamu,” kata Pi.

Pi pikul Omi di atas punggungnya yang kelewat kuat bagi seorang wanita. Langkah kakinya ringan, tenang menyusuri rimba yang gulita, seolah sudah hafal setiap lekukan dan liukan jalan sunyi; mana menuju jurang dan mana menuju terang.

Seperti mampu membaca tanda tanya di wajah Omi, Pi bersuara, “Aku sudah lama di dunia seperti ini.”

Ego kelelakian menumpas rasa lelah Omi. Ia meminta diturunkan, yakin bisa berjalan dengan kaki sendiri, asalkan ada Pi sebagai teman jalan. Mulanya Pi sangsi, tapi ia paham, Omi cuma gengsi. Jadi ia turunkan Omi hingga lelaki itu tersaruk di sisinya.

“Jadi, kita ke mana?” pertanyaan Omi mengudara.

“Rumahku.”

Jantung Omi berdebar riuh. Rumah adalah hal amat pribadi bagi setiap manusia yang ia tahu. Maka jika Pi sudi mengundangnya tinggal bersama, apakah rasa yang ia pendam ini berbalas? Dalam hati Omi bersumpah, takkan biarkan yang satu ini pergi darinya. Mungkin Pi memang rumah barunya. Tujuan hidup berikutnya.

Mereka berlabuh di sebuah pondokan utuh. Bagian depannya mewah dan kukuh. Namun, atensi Omi menangkap pintu kamar di bagian dalam rapuh dan kumuh. Tercetuslah inisiatif untuk benahi kekumuhan itu.

Tiba-tiba dadanya ditahan dan disodok Pi agar tak berjalan lebih jauh.

Wanita itu menukas, dingin, “Stop. Tempatmu di sini, Tamu. Jangan lancang mengobrak-abrik rumahku.” Lalu bertolak masuk ke dalam kamarnya, dengan pintu rapuh yang menutup angkuh.

Mengingatkan Omi, bahwa ia hanya tamu bagi Pi.


Diikutsertakan dalam Gerakan Rutin Menulis 30 Hari (Gerimis30Hari) Ellunar Publishing

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: