[ #1Week1Fiction1Genre • Minggu 2 • Saba • 0(Ma-H) Celestilla ]
Jumlah Kata : 517
LIMA BELAS KALI APRIL berlalu sejak Kakek pergi. Rimbanya nihil dari jejak sama sekali. Polisi mencari-cari, rekan sejawat ditanyai, dunia maya dilacaki.
Namun, tiada informasi berarti. Tahunan, foto Kakek bersanding dengan stiker iklan sedot WC di dinding rumah orang dan tiang listrik; terbiar luntur didera hujan dan terik matahari.
Waktu sosoknya menghilang, aku masih bayi. Lima belas tahun aku tumbuh menerima anggapan bahwa sosok Kakek yang fotonya kerap dipeluk Nenek Buyut sampai lecek itu sudah máti. Nenek bahkan sudah pasrah kalau-kalau Kakek kawin lagi dengan istri muda dan tinggal di luar provinsi.
Akal sehat Nenek Buyut yang terlahap masa lah yang menjadi masalahnya. Ia histeris setiap melihat lelaki paruh baya nan tambun melewati pintu rumah, mengganggapnya sebagai putranya. Alhasil, Ayah memasang teralis di pintu kamar Nenek Buyut. Sebab tiada yang bisa saksama mengawasi Nenek Buyut di kala Ayah pergi bekerja. Nenek menjagai warung dan mudah lelah, aku bersekolah, sedang waktu Ibu terkuras untuk mengurus adik bayi yang baru lahir sepekan silam.
Maka, manusia mana yang mengira Kakek akan datang kembali? Bukan hanya seisi rumah yang gempar, melainkan hampir satu kelurahan. Orang-orang mengerumuni rumah kami seperti sedang ada kenduri. Ayah sampai minta cuti setengah hari demi memastikan lebih dini dengan mata kepala sendiri.
Lelaki yang disebut ‘Pak Abdul’ duduk bengong di atas kursi. Berondongan pertanyaan dan tangis Nenek dijawabnya dengan suara tak berintonasi.
Katanya, malam itu dia pulang main kartu dan yakin sudah sampai rumah. Ternyata dia terbangun di semak belukar dan meenyadari bahwa dirinya meloncat ke masa depan. Orang-orang mulai berseloroh, Kakek bicara omong kosong. Jauh lebih mudah percaya pada dugaan nikah lagi.
Ayah pun menengahi, mungkin Kakek lelah hingga butuh istirahat.
Anehnya, di antara semua peluk cium yang mestinya berlangsung haru, Nenek Buyut justru satu-satunya yang menolak keberadaan Kakek. Langkah kaki kami di depan teralis yang terbuka justru disambut lontaran sendok dan piring makan siangnya.
“PERGI! JAHANNAM INI BUKAN ABDUL!”
Ayah, Ibu, Nenek, dan para tetangga kebingungan, hingga kurem mulutku untuk melontarkan kata tanya. Semua orang membahas tekanan batin dan kepikunan Nenek Buyut hingga keliru wajah putra sendiri. Keributan itu membuat Adik menangis, hingga Ayah mengusir semua orang keluar. Aku bahkan dipaksanya lekas masuk kamar.
Seperti malam-malam Minggu biasanya, waktu kuhabiskan dengan bermain game sampai dini hari dan batere ponselku nyaris mati. Aku baru keluar kamar atas desakan di kandung kemih. Anehnya, rumah terasa terlalu sunyi. Tidak ada jangkrik atau cicak bernyanyi, pun suara tangis Adik yang kuhafal selalu bangun jam segini.
Langkah kakiku menuju pintu kamar mandi terhenti lantaran kusaksikan siluet aneh di dapur. Kata Pak Ustadz, hantu gentar pada manusia, jadi kuntilanak atau pocong pun tak kutakuti. Saat mataku mulai beradaptasi dengan keremangan, kutemukan pemandangan yang lebih mengerikan ketimbang dua penampakan itu.
Sosok Kakek berjongkok di lantai yang bersimbah darah. Mulutnya sibuk memamah, suara decapannya terdengar menjijikkan, sedang Adik meringkuk di bawah, kehilangan tangan dan mungkin pula nyawa. Bisa kurasakan cairan hangat mengaliri celana—akhirnya aku pipis juga—tetapi kakiku kaku dan suaraku hilang.
Perlahan, Kakek mengangkat muka, menatapku. Matanya putih semua. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar, makin lebar, terlalu lebar, sampai terkesan sobek dari telinga ke telinga.
Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi, kecuali gulita.
