Prompt: Little Lies
Jumlah Kata: 500
Dalam pertemuan keluarga, Nona sering menangis diam-diam karena banyak hal.
Bibi A suka membangga-banggakan Piala ke mana-mana. Katanya, “Pialaku mengukir bintang di angkasa lagi.”
Piala terlahir dari liang Bibi A dua tahun sebelum Nona. Lantaran kepalanya yang tak semengkilap Piala, Nona rajin jadi korban perbandingan. Padahal, kilap Piala pun sudah redup karena kebanyakan memelototi ribuan buku dan teori ruwet yang tak sesuai usianya. Hanya saja tampak kinclong berkat dipoles Bibi A dengan bumbu yang entah bernama apa.
Ada pula Bibi B yang menuang liurnya ke kerongkongan saudarinya, iparnya, termasuk Ibu yang menadah mereka dengan semangat empat-lima, untuk dituangkan kembali kepada bibi-bibi lain di acara berikutnya. Waktu itu Nona belum paham kenapa mereka doyan mencecap liur. Anehnya, liur yang sama selalu mengemukakan rasa yang berbeda dalam setiap pertemuan. Mungkin sudah dicampur bumbu yang lagi-lagi belum Nona tahu namanya.
Nona baru bisa berhenti menangis dan belajar tentang semuanya ketika suatu hari, lengannya digeret Ibu ke hadapan semua orang yang menghadiri pertemuan keluarga. Ke telinganya, Ibu berbisik, “Buatlah kata semanis mungkin. Tidak apa-apa jika kamu berdusta.”
Maka Nona berakting memelas untuk mengemis.
“Besok Nona akan pakai rok merah hati, tapi Ayah-Ibu tidak punya uang beli buku.”
Tiba-tiba, bunyi gemerincing terdengar. Pundi-pundinya mulai terisi oleh Paman dan Bibi yang membayar rasa iba mereka. Saat itulah, kepala kecil Nona mulai memahami apa nama dan wujud bumbu yang dipakai para bibi untuk menambal rasa liur, sama seperti apa yang digunakan Bibi A untuk mengkilapkan kepala Piala. Rupanya, aroma dan rasanya memang menggoda dan mengadiksi. Dengannya, Nona bisa meraup banyak sekali keuntungan.
Besok-besok Nona belajar meramu bumbu dan minyak itu, saat disuruh Ibu pergi membeli di warung-warung. Rasanya justru semakin lezat ketika Nona berhasil membuat Noni, teman sebangkunya, dihukum Ibu Guru karena mencuri uang Nina, sambil menggenggam uang itu di tangannya sendiri. Juga saat Nona mengadu domba Noni dan Nunu, dua orang yang nggak pernah disukainya, hingga keduanya bertikai sampai orang tua mereka dipanggil ke sekolah. Berkatnya pula, teman-teman Noni dan Nunu pindah untuk menjilat liur Nona.
Nona kian lihai meracik bumbu itu hingga lirunya makin lama makin melezatkan setiap cerita. Seperti cara kerja menabung yang diinfokan Bu Guru, kemampuannya sedikit-sedikit menjadi bukit. Dengan menyapukan mereka ke postingan dunia mayanya, Nona sukses terbit menjadi idola di kalangan remaja. Lama-lama Nona bangga dia tumbuh dewasa dengan bukit kelihaiannya yang kian berkembang pesat.
Perkumpulan keluarga kemudian menjadi momen di mana Nona bisa sering tertawa. Nona masih rajin jadi bahan perbandingan, tapi posisinya justru berada di titik Piala tahunan lalu.
Ibu berkata pongah di atas kursi yang semula milik Bibi A, “Nonaku mengukir bintang di angkasa.”
Perkumpulan keluarga berhenti jadi favorit Nona ketika liurnya yang sudah mulai membusuk diangkut-angkut oleh Piala. Akibatnya, Nona menjadi bahan tuangan para Bibi, dan Ibu didepak dari kursi pongahnya.
“Aku dengar dari Noni, Nunu dan Nina. Kata mereka, Nona-lah pelaku semua kekejian itu. Kasihan mereka. Memang, ya. Sekali tukang bohong, selamanya begitu.”
Siapa pun yang pertama menelurkan ide berdusta dan perkumpulan keluarga sudah tewas hari itu juga. Dibūnúh Nona dalam kepalanya, dengan berbagai cara màti.
