Manusia

Prompt: Hitam dan Putih
Jumlah Kata: 500

Pada malam usai kupu-kupu yang didongengkan Ibu mengepakkan sayapnya ke mata Je dan memaksanya jatuh dalam kantuk yang sayup, diam-diam Ayah menyusup masuk, membawa bubuk gula untuk dituangkan ke dalam jantung putrinya.

Esoknya, ketika fajar menjemput dengan tuntuntan pergi sekolah, Je memandang hidup dengan mata yang cerah. Dunia terasa amat manis dan ringan, hingga tiada celah baginya untuk memikirkan kekacauan. Bahkan saat Re, teman sekelasnya yang nakal, mendorong Je ke jalanan hingga tubuh mungil itu nyaris tertabrak truk, Je tak menimpali apa pun selain bungkam seribu bahasa.

Pulang-pulang, Je dihujani amukan ibunya, “Kenapa tidak membalas? Tubuhmu luka semua!”

“Tidak apa-apa, Bu,” kata Je pelan, “Katanya kita harus bisa memaafkan.”

Ibu Je melontar napas dengan kasar. Pantang baginya memiliki putri berkepribadian lembek. Maka malam itu, usai kupu-kupu yang didongengkannya mengepakkan sayap ke mata Je dan memaksanya jatuh dalam kantuk yang sayup, diam-diam ia tuangkan serbuk kopi ke dalam jantung putrinya.

Mungkin karena wangi kopi, mata Je jadi terbuka lebih lebar mengamati dunia. Hari-harinya terasa lebih keras dan keruh dibandingkan sebelumnya. Re yang hendak mengusilinya lagi, dibalasnya dengan timpukan batu di kepala. Darah segar Re mengucur dari permukaan kulit kepalanya yang koyak. Teman sekelas Je itu berteriak menangis, memanggil guru dan mengadu.

Je menyalangkan mata, balik memberi tahu, “Aku hanya membalaskan apa yang kurasakan kemarin! Kenapa kau boleh membuatku hampir mati, sementara aku tidak?”

Namun, guru-guru tak terima. Mereka panggil Ayah dan Ibu Je untuk menghadap kepala sekolah. Tindakan Je masuk dalam pelanggaran kedisiplinan, hingga Je harus mengalami teguran keras dan hukuman.

Ketika ketiganya pulang dan menjejaki lantai pualam rumah mereka, apa yang tertahan di dada Ayah Ibu lekas-lekas muncrat keluar.

“Semua ini gara-gara kamu yang lembek!”

“Semua ini gara-gara kamu yang keras kepala!”

Sejak siang itu, rumah tak lagi sama. Tak lagi ramah. Ayah dan Ibu tak pernah tidak berakhir dengan kekacauan setiap kali berjumpa. Masing-masing saling menyalahkan satu sama lain karena mengasup hal yang salah ke jantung putrinya. Sementara Je meringkuk di kolong tempat tidur, bimbang dan terombang ambing, harus melihat dunia dengan cara seperti apa. Sebab kini, bahkan Ayah dan Ibu sendiri tampak jahat sekaligus baik di matanya.

Keributan yang berlangsung di antara mereka mengundang Nenek turun untuk turut campur tangan. Begitu ia tiba, mata tua wanita itu sudah langsung mampu menangkap persoalan yang ada, sekalipun Ayah dan Ibu tak pernah mau berkisah.

Hingga, pada malam usai kupu-kupu yang didongengkan mengepakkan sayapnya ke mata Je dan memaksanya jatuh dalam kantuk yang sayup, diam-diam Nenek menyusup masuk, membawa adukan gula, kopi, dan air yang dikuras dari liang matanya sendiri, untuk dituangkan ke dalam jantung cucunya. Ia aduk segalanya perlahan dalam doa, agar cucunya tumbuh menjadi seseorang yang bijaksana.

“Biarkan segalanya larut, Cucuku. Lihatlah dunia yang penuh warna ini dengan cara seimbang.”

Ketika mata Je membuka, dilihatnya warna-warna yang tak pernah tampak sebelumnya; didengarnya bisikan-bisikan yang tak pernah ada sebelumnya. Disibaknya selimut untuk menjumpai Ayah dan Ibu yang kini menangis bersimpuh di hadapan Nenek. Di kepala kecilnya kini terdentang: ‘aku, Ayah, dan Ibu tidak baik dan tidak jahat. Kami hanya manusia.’

Tinggalkan komentar