Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Samudra

Prompt: Out of The Hole
Jumlah Kata: 500

Aku bertemu dia di sebuah pub bernama Samudra. Di sudut ruang, satu-satunya yang luang, dia tampak hancur dalam keterdiaman.

Seolah dia telah mati, dan abunya dilarung di lautan nan ganas.

Kepalanya terkulai dalam helai rambutnya yang panjang. Ketika dia menyibak tirai itu, muncullah wajah yang dihujani luka, secara harfiah maupun kias. Kala menengadah, kelap-kelip lelampu bahkan lesap dan kehilangan daya pantulan begitu jatuh di bola matanya yang kelam.

Tiba-tiba mulutnya yang ditelanjangi alkohol menggumam padaku yang duduk di sebelah,

“Menurutmu, apakah seseorang yang berkubang di dalam lumpur tidak memiliki kesempatan untuk merekah?”

Aku diam. Lalu dia ikut menunggu dalam bungkam.

Gelegak di dalam batinku menumpahkan rasa yang tak bisa kudeskripsikan, berikut dorongan untuk mengayak dia dari butiran pasir dan garam di atas kisah dan kasihku yang hangat cenderung panas.

Kusentuh lengannya perlahan. Di tanganku yang peka, dia terasa seperti kehilangan cahaya. Dia dingin dan kelam, seolah telah selamanya berkecimpung di bahu malam. Akan tetapi, setidaknya masih bisa kurabai denyut lemah jiwanya yang bersemayam jauh di dasar harapan.

“Tidak,” kataku. “Kau bahkan punya kesempatan untuk keluar dari kubangan dan membangun tamanmu.”

Malam-malam kemudian berlalu di sudut yang sama, memautkan aku dan dia seperti bibir pantai yang menyatukan daratan dan samudra. Kami tak saling tanya nama. Tak saling tanya keadaan. Tak saling tanya lulusan mana, tinggal di mana atau hal-hal remeh lainnya seperti orang kebanyakan. Yang kami bicarakan adalah bagaimana dunia menerima kami dan kami menerima dunia. Dari sanalah ada praduga yang membersit dalam pikiranku bahwa dia seseorang yang butuh didorong keluar dari tepi jurang.

Maka tak peduli telah berapa kali langit hitam menjadi purnama, aku menyusun pelita sebutir demi sebutir, yang kupetik dari percik bintang kecil di bahu bimasakti, untuk kurajut jadi selimut demi menghangatkannya dari kuyup dan dingin. Begitu selimutku rampung tiga bulan kemudian, kubungkus ia dalam kedamaian. Pertemuan kami ditutup dengan pelukan dan tepukan yang menenangkan.

“Jangan khawatir. Jangan khawatir. Aku ada. Aku ada untukmu,” kataku berulang.

Saat itu pula, dia menumpahkan lautannya hingga kering. Aku tak peduli meski harus kusapu wajahnya dengan berhelai-helai tisu yang memenuhi boks sampah.

Malam demi malam yang terjalin di antara kami sudah cukup membuatku percaya untuk membawanya ke tempatku yang hangat. Tempat di mana orang-orang menyelimutiku dengan tawa dan canda, berharap hal yang sama dipancarkan padanya juga.

Akan tetapi, rupanya keramahan itu tidak berlaku baginya. Geletar api dan cahaya yang mengakrabiku sontak membeku begitu berjumpa dia.

“Kaupungut dari mana orang seperti ini? Jangan pernah bilang padaku, kau akan menjadikannya teman. Tidak, aku tidak akan pernah menerima itu. Carilah seseorang yang bisa membahagiakanmu!”

Melalui pantulan di matanya yang kini hampa, dapat kulihat hatinya telah luluh lantak. Cukup lama dia terjebak dalam kekosongan di rusuk. Bahkan hingga malam kembali menyapa dan kubawa dia kembali ke tempatnya. Aku takut binaran di matanya kembali dingin. Sebab bibirnya mengatup rapat dan enggan melontar sepatah kata pun, sekalipun aku menuang tanya puluhan kali.

Maka aku memeluknya dengan selimutku sendiri, menepuk punggungnya demi mengonduksikan kehangatan.

Apa gunanya raga tanpa hati? Malam itu akhirnya kuputuskan untuk memberi separuh hatiku sebagai penambal keretakannya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: