Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Lega

Prompt: Last Drop of The Rain
Jumlah Kata: 500

“Tahan air matamu, gulung lidahmu.”

Demikian petuah yang kulahap sejak kecil. Petuah yang mendarah daging. Bersemayam dalam tubuh. Mengikuti tumbuh kembangku hingga mendewasa.

Ibu selalu benci orang menangis. Menurutnya, menangis adalah pertanda hatimu rentan dan mudah terobrak-abrik. Hatimu lemah dan mudah digoyahkan. Hatimu lembek dan mudah diinjak-injak.

“Hidup Ibu lebih kejam dibanding hidupmu. Air harus ditimba sendiri dari sumur tetangga yang jauhnya sekian kilometer. Dipikul naik turun tangga, tanpa alas kaki, di bawah terik matahari. Makanan dipetik dari kebun dan diolah sendiri di atas kayu bakar. Kalau mau uang, ya bekerja. Menawarkan jasa ini dan itu ke pasar. Tapi kami tidak pernah menangis.”

Sering Ibu membuat perbandingan hidup kami yang terpaut sekian dekade.

Menurutnya, hidup zaman sekarang bagai selimut, memaksa diri orang hidup nyaman sekaligus memelas. Air tinggal dituang dan ditenggak, hingga kami tak paham makna perjuangan di tengah kukusan udara panas. Makanan tinggal disuap ke mulut, tidak tahu arti pengorbanan mencari sebutir beras. Uang tinggal menadah kucuran Ayah dan Ibu, hingga dianggap tidak kenal kata kerja keras.

“Karena itulah generasi sekarang jadi manja. Sedikit-sedikit, nangis. Tapi Ibu tidak mau anak-anak Ibu menangis.”

Ibu juga rutin bercerita perihal nenek yang ketika melihat putra-putrinya menangis, langsung mengeluarkan cemeti. Dicambuknya betis-betis Ibu dan Paman-Bibi yang tak lagi punya waktu mengeluarkan air mata. Cairan yang hendak menyembul ditelan kembali, lalu menguap di udara lantaran terpanggang panas di hati.

“Hidupmu masih mending. Sekarang, Ibu tidak lagi pakai kekerasan seperti cara Nenekmu dahulu.”

Ibu memang tidak menggenggam cemeti, atau sapu lidi untuk dikibaskan ke betis, atau kayu untuk diempaskan ke punggungku. Namun, ada lidah Ibu yang rutin menampari ulu hati.

“Kenapa nilaimu seperti ini?”

“Kenapa kau turun peringkat?”

“Kenapa kau tidak jadi juara kelas?”

“Makanya, sudah Ibu bilang jangan makan sembarangan.”

“Makanya, sudah Ibu bilang untuk berhati-hati.”

“Makanya, sudah Ibu bilang untuk tahu diri.”

Kata ‘Kenapa’ dan ‘Makanya’ bersanding bersama perintah untuk menahan air mata dan menggulung lidah. Seperti itulah caraku hidup menyongsong dewasa.

Kata Ibu, momen pertama dan terakhir yang membuatnya menangis adalah ketika Nenek meninggal. Kala itu, Ibu beserta saudara-saudarinya meratapi kepergian nenek seperti kehilangan guru besar. Sebab cambukan yang telah berhari-hari menyurutkan daya itu telah sirna, bersama tubuh Nenek yang lunglai dilahap ketiadaan.

Bagi mereka, pukulan Nenek yang telah berjasa membuat mereka menjadi sosok-sosok tegar, akan senantiasa mereka rindukan.

“Karena itulah, kau pun harus menahan tangisanmu. Jadilah anak yang kuat dan tegar menghadapi cobaan.”

Ibu menuntuku agar bisa sekokoh karang, kdan demikianlah Ibu menjadi ombaknya. Mengikis perasaanku selapis demi selapis, menjadikannya tumpul dan tajam sesuai kehendak hatinya.

Mulanya aku tak paham bagaimana maksud Ibu dengan rasa kehilangan saat Nenek pergi. Namun, waktu menjawab segalanya. Akhirnya kupahami perasaan ini ketika Ibu turut menyusuli Nenek, redup menjadi ombak betulan. Aku merasakan kehampaan di rongga-ronggaku, beriringan dengan air yang jatuh berderai untuk pertama dan terakhir kalinya setelah lama terperangkap di mataku.

Akan tetapi, ini bukan rasa kehilangan yang sungguh. Meskipun mataku memuntahkan air, mulutku justru tertawa.

Orang-orang sekitar memelukku prihatin. Mereka pikir aku ada di taraf menjadi gila. Andai mereka tahu, yang kurasakan adalah lega.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: