Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Bintang

Prompt: Temptation
Jumlah Kata: 500

Ketika tinggiku hampir menyamai tanaman buxus yang menamengi rumah tetangga, Ayah gemar mengajakku jalan-jalan malam hari.

Berdua menontoni bintang-bintang bernyanyi, menari, berhaha-hihi, jauh di angkasa raya.

Kadangkala Ayah masih terbalut baju dan wajah yang kusut. Namun, dia temani aku menempati ayunan yang tiap ditolak selalu berkeriut. Telunjuk kami yang dinodai bumbu keripik terangkat. Memilih bintang favorit, masing-masing satu.

Mulutku menceletuk, “Bisakah Ayah petik bintang itu untukku?”

Kepalanya menggeleng. “Bintang tidak untuk dipetik. Mereka ada di sana agar Bumi terhibur dengan cahayanya. Tempat mereka di atas. Satu-satunya cara untukmu berjumpa mereka adalah menjadi bintang itu sendiri.”

“Bagaimana caranya menjadi bintang?”

Mulut Ayah bungkam sejenak. “Bermimpi, percaya, dan bekerja keraslah. Tapi, bukankah kamu ingin jadi dokter?”

Beberapa menit aku disergap bimbang. Ayah, guru-guru, tetangga, tahu betapa inginnya aku menjadi dokter. Seperti Ayah. Legenda yang menyelamatkanku, sewaktu tubuhku yang masih merah tergolek lemah di tengah hujan yang rekah.

“Memangnya dokter bukan bintang?”

“Dokter juga bintang. Tapi bukan untuk menari dan bernyanyi di atas sana. Cahaya yang kami pancarkan adalah untuk menyembuhkan.”

Aku terdiam sejenak. “Aku ingin jadi bintang yang bernyanyi. Dengan nyanyianku, Ayah yang kelelahan menyembuhkan orang bisa kembali tersenyum senang.”

Tangannya terangkat, mengacak-acak rambutku lembut. Suara gelak tawanya menggelitik batinku. Suara yang tak pernah gagal membuatku jatuh hati dan menerka-nerka, mengapa Ayah tak jadi bintang saja.

Malam itu, langit kutunjuk jadi ibu dari lusinan mimpi yang akan kutanam di kebun belakang rumah, saat fajar membuka mata. Beberapa tahun kemudian akan kupetik dan kusemai kepingan bintangku sendiri. Seperti memetik pucuk puisi dari semak-semak kata, untuk kuhidangkan bagi Ayah tercinta.

Namun, ketika tubuhku sudah jauh mencelati tinggi tanaman buxus, mulut Ayah yang kuduga selamanya hanya memuntahkan cerita-cerita ceria, tiba-tiba saja berpetuah dengan serius. Seolah tahu betapa kuseriusi pula mimpiku, yang semula hanya dianggapnya celetukan anak kecil.

“Menjadi bintang berarti kamu harus siap diteguk lubang hitam. Jika Ayah bisa memilih, Ayah lebih suka kamu jadi dokter saja.”

“Tapi aku masih ingin,” aku bersikeras.

“Langit bercahaya dengan bintang. Sayang, kita lebih dekat dengan binatang, mengais tanah, memetik bunga, memburu mangsa, menyelamatkan jiwa-jiwa, untuk bisa makan.”

Pemikiran remajaku tiba-tiba mencuatkan kemurkaan. “Kata-kata Ayah jahat! Ayah meragukan mimpiku!”

“Asal kamu tahu, Nak. Dunia ini bukan tempat orang bermimpi. Ini tempat orang bekerja keras. Jika kamu masih kukuh ingin bermimpi, cuci kaki tanganmu, tidur, dan bermimpilah.”

Kutulikan diri dari kalimat Ayah.

Aku berlatih begitu keras. Kaki dan tanganku dibeliti tekad untuk membuktikan pada Ayah, bahwa aku tak sekadar bermimpi. Akibatnya, waktuku tersita banyak untuk memoles sudut-sudut kehidupanku, biar jadi semolek bintang yang sesungguhnya.

Ayah juga tidak pernah lagi mengajakku menontoni tarian dan nyanyian bintang. Bintang berubah jadi momok baginya. Sepulang kerja, dia menghabiskan waktu menyendiri di kamar dalam kebisuan yang tak kutahu apa.

Kebisuan dan keterasingan yang terjalin di tengah kami akhirnya pecah ketika aku berlari ke rumah, membawakan kabar baik bahwa aku akan segera diorbitkan.

Akan tetapi, yang kutemui di sana hanya sosok Ayah yang membeku, kaku, dikerubuti orang-orang dekat kami dalam rinai sedu-sedan yang sendu.

Kupikir saat itu aku memahami maksud Ayah. Aku telah diteguk lubang hitam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: