Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Day 28 – Bangkrut

DI GURUN PASIR yang tandus itu, mungkin Fulan satu-satunya anak manusia yang tak perlu memikirkan lapar dan haus. Pundi-pundinya senantiasa terisi dan terus bertambah seiring langkahnya terkayuh, sampai kelak ia tiba di tempat tujuan pengembaraan mereka.

Sementara orang lain di sisinya berjalan terseok, dada Fulan justru mengembung bangga sembari memunguti apa saja yang bisa diangkut. Ia pandang orang-orang lain dengan cemooh. Termasuk pula gelimpangan mayat di jalan-jalan raya, yang harus ditendangnya karena jadi penghalang lintasan. Mereka itu manusia yang tak layak hidup, pikirnya. Bagaimana bisa, baru sementara berjalan, sudah memutuskan menyerah? Apa kemampuan mereka hanya seujung kuku? Lagi pun, apa tumpukan berlian di sekeliling tak terlihat di mata mereka?

Kemudian Fulan berpapasan dengan seorang pengelana tua yang tampak lelah mengais remah-remah, sepertinya sebentar lagi pun ia menyusul tumbang jadi mayat lainnya. Kesal, diludahinya si tua itu, biar mati sekarang saja. Aneh, alih-alih marah, pengelana tua malah menadahkan tangan dan menghadap angkasa.

“Terima kasih, terima kasih.”

Fulan mengernyit jijik. Orang sinting, pikirnya. Diludahi kok malah berterima kasih? Apa terik mentari sudah menguapkan otaknya jadi debu di udara? Ia geleng-geleng kepala, lantas memecut langkah agar bisa menjemput lebih banyak berlian ke dalam pundi-pundinya.

Tujuan akhir pun tiba. Senyum Fulan merekah percaya diri kala ia letakkan bawaannya untuk kemudian ditimbang dalam penentuan skor akhir. Terduduklah ia di bawah pohon rindang usai dipersilakan penjaga, sembari menanti jadwal penimbangannya.

Akan tetapi, begitu namanya dipanggil, kerut di kening Fulan mencuat. Bagaimana bisa tas berisi hartanya sekempis itu? Benar saja, waktu ditimbang pun, aset Fulan rupanya tak seberapa. Fulan pun memrotes, menuduh seseorang mencuri hartanya, dan menuntut agar diputarkan CCTV. Akan ia tuntut siapa pun yang berani mengutili hartanya.

Namun, mulut Fulan mengatup rapat kala menyaksikan layar. Sebab ia lihat sendiri, tangannyalah yang memberikan bekalnya bagi mayat-mayat tak guna, juga lelaki tua yang dihardik dan diludahinya sebelum ini.


Diikutsertakan dalam Gerakan Rutin Menulis 30 Hari (Gerimis30Hari) Ellunar Publishing

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: