ENTAH SUDAH BERAPA KALI Ibu menuang petuah demikian. Timpalanku selalu sama. Senyum tipis yang menandakan ketegaran. Sesapuan ringis yang menandaskan keputusan.
Naśvara
ENTAH SUDAH BERAPA KALI Ibu menuang petuah demikian. Timpalanku selalu sama. Senyum tipis yang menandakan ketegaran. Sesapuan ringis yang menandaskan keputusan.
SUATU HARI, CELAH HITAM merekah di langit semestaku. Malam tiba terlampau dini. Dari angkasa yang nirbintang, namamu mencuat dan memelesat. Ekornya membias bagai gema yang tak pudar-pudar.
Dari angkasa yang nirbintang, namamu mencuat dan memelesat.
IA ADALAH MENDUNG di langit-langitku. Kedatangannya tidak meninggalkan jejak. Yang jelas, membersamainya, aku disapa serpihan memori yang telah berlalu, kekecewaan yang bertalu-talu, kehilangan yang pilu, serta adukan haru dan malu.
Jam tiga dini hari memang waktu yang sempurna untuk menjadi hakim atas diri sendiri. Membuka sidang atas hal-hal yang sudah berlalu, yang seharusnya sudah selesai. Membongkar apa yang tidak butuh lagi jawaban, lalu menyerahkan diri pada kekosongan yang justru membuat dada terasa dibeludaki beban.