Duhai ..., alangkah indahnya batinmu yang telah purna. Berdiri di tengah riuh rendah pasar dunia, dengan telinga hanya mendengarkan sonata, dari dalam detak jantungmu yang biara.
Satis
Duhai ..., alangkah indahnya batinmu yang telah purna. Berdiri di tengah riuh rendah pasar dunia, dengan telinga hanya mendengarkan sonata, dari dalam detak jantungmu yang biara.
Duhai ..., alangkah indahnya batinmu yang telah purna. Berdiri di tengah riuh rendah pasar dunia, dengan telinga hanya mendengarkan sonata, dari dalam detak jantungmu yang biara. Tak butuh lagi menakar-nakar berapa gantang gandum di lumbung tetangga, atau seberapa berkilau emas di jemari kawan lama. Tak perlu pula berebut remah di meja perjamuan. Perutmu tak lagi … Lanjutkan membaca Batinmu yang Purna
Tuhan karuniakan Semesta ini selaku kanvas yang luas. Di atasnyalah Dia bubuki aneka ragam seni-Nya. Nyanyian, musik, tarian, drama, sastra, lukisan, ukiran, potret. Gunung dan lembah. Sungai dan gurun. Langit malam yang ditaburi keping gemintang. Laut lepas yang mendeburkan ombak.
I. di mulut musim yang menyemai rona,saat jam kehilangan angka,kita duduk di tepi sunyi, tanpa sebab mengapaangkasa leburlidah matahari menjulurdijilatinya debu langkah yang berdeburtertulislah tanda pada tanah berlumpur kuikat siang dengan tali asap doa,kausimpan amin di udara tanpa bejanatiba-tiba, kulihat: burung-burung lupa arah pulang ke utara,langit retak halus, meneteskan cahaya tua.II. hari mengendap persis besi … Lanjutkan membaca And, Thus, I Furl The Moon
Mengalir dari budi, mencelat ke lisani, mendekam di batin orang lain. Jadi, sebagaimana fisik dan rupa dipiara agar layak dipandang, bahasa pun sepatutnya dijaga dalam sikap dan rasa yang ditimbang. Kata-kata mengandung potensi apa-apa yang mungkin luput disadari si penuang. Sebaris kalimat atau frasa tertentu pun, dapat menggedor kerapuhan, menggoyahkan keteguhan, menambah keletihan. Bisa pula … Lanjutkan membaca Berumah di Langit Ingatan
Andaikata kau sudah pernah melalui badai muskil, gerimis pun bukan lagi soalan yang terdaya membuatmu menggigil.Jatuhnya sebatas peringatan biasa. Bahwa langit, memang sedang ingin memamerkan daya. Atau, saat inilah kau ditempatkan di masa dinginnya yang durkarsa.ย ย Akan tetapi, kau tahu, kaki itu masih sanggup memijak lelumpur yang mulai mencoba melicinkan jalan di bawahnya. Sekalipun tanganmu … Lanjutkan membaca Orkestra Gerimis
Sekalipun rutin berpuisi ataupun mendongengkan cinta bertahun-tahun lamanya, sang penyair tidak otomatis dibuat kebal. Satu-satunya kesadaran yang bisa ditelannya dari kenyataan hanya: ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐.Ia datang silih berganti. Dengan rupa yang berbeda. Dengan rasa yang tidak sepenuhnya sewujud antara satu dengan yang lainnya. Serta berondongan tanya yang tak kenal batasannya dan … Lanjutkan membaca Hikayat dalam Cinta
Mari, Sayang. Duduk dan ceritakan, perihal perkara yang melesakkan gundah ke dalam dadamu. Kisahkan bara, lara, jerat dan jerit yang bermalam di jiwamu sampai mengempap akal sehatmu, dan membuatmu nyalang menembus pukul tiga pagi, mengirimkanmu desak dan desir tentang mati dan kehidupan di ujung jari. Tuangkan semua, sembari kita bersama menyesap secangkir teh hangat, hingga … Lanjutkan membaca Yang Ingin Kauselamatkan
I. di antara genang kenangan, Dia sisipkan:benih rindu dan bibit kelopak yang bersemudari mantra-mantra Semesta; ๐ฐ๐ฎ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ฎ๐ฆ ๐ฉ๐ถ๐ฎmaka, tercuatkanlah; kemelut nan berdenyutdalam kubangan yang dahulunya hampaperlahan,yang tumbuh dari keruh itumulai jerih menyibak makna;kelunakan yang tak mengenal patah,keteguhan yang tak memilih tanahsetiap titis embun menjilati luka,untuk menemukan tempat bersuakadi antara perkara-perkara kekurangan;dukkhaโmencerap kesuramanmenyerap apa-apa yang … Lanjutkan membaca Padma Nibbana; Dukkha Nirodha
Kala hati terlampau layu pasca-tarian kenelangsaan, mungkinkah kau terlupa bahwa sekuntum harapan masih dapat bertunas pada tanah yang retak di peraduan. Saat muram terlalu jauh merayapi batin yang kehilangan, lilin-lilin mungil yang dinyalakan alam dari doa ibu yang kudus di masa silam pun bisa saja ditenggelamkan dari kolam ingatan. Ada masanya kau biarkan gelisah menguasai … Lanjutkan membaca Berkelakanlah, Jiwa … Berkekalanlah
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.