Mengalir dari budi, mencelat ke lisani, mendekam di batin orang lain. Jadi, sebagaimana fisik dan rupa dipiara agar layak dipandang, bahasa pun sepatutnya dijaga dalam sikap dan rasa yang ditimbang. Kata-kata mengandung potensi apa-apa yang mungkin luput disadari si penuang. Sebaris kalimat atau frasa tertentu pun, dapat menggedor kerapuhan, menggoyahkan keteguhan, menambah keletihan. Bisa pula … Lanjutkan membaca Berumah di Langit Ingatan
Orkestra Gerimis
Andaikata kau sudah pernah melalui badai muskil, gerimis pun bukan lagi soalan yang terdaya membuatmu menggigil.Jatuhnya sebatas peringatan biasa. Bahwa langit, memang sedang ingin memamerkan daya. Atau, saat inilah kau ditempatkan di masa dinginnya yang durkarsa. Akan tetapi, kau tahu, kaki itu masih sanggup memijak lelumpur yang mulai mencoba melicinkan jalan di bawahnya. Sekalipun tanganmu … Lanjutkan membaca Orkestra Gerimis
Hikayat dalam Cinta
Sekalipun rutin berpuisi ataupun mendongengkan cinta bertahun-tahun lamanya, sang penyair tidak otomatis dibuat kebal. Satu-satunya kesadaran yang bisa ditelannya dari kenyataan hanya: 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒕𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒔𝒖𝒏𝒈𝒈𝒖𝒉 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒌𝒉𝒂𝒕𝒂𝒎𝒌𝒂𝒏.Ia datang silih berganti. Dengan rupa yang berbeda. Dengan rasa yang tidak sepenuhnya sewujud antara satu dengan yang lainnya. Serta berondongan tanya yang tak kenal batasannya dan … Lanjutkan membaca Hikayat dalam Cinta
Yang Ingin Kauselamatkan
Mari, Sayang. Duduk dan ceritakan, perihal perkara yang melesakkan gundah ke dalam dadamu. Kisahkan bara, lara, jerat dan jerit yang bermalam di jiwamu sampai mengempap akal sehatmu, dan membuatmu nyalang menembus pukul tiga pagi, mengirimkanmu desak dan desir tentang mati dan kehidupan di ujung jari. Tuangkan semua, sembari kita bersama menyesap secangkir teh hangat, hingga … Lanjutkan membaca Yang Ingin Kauselamatkan
Padma Nibbana; Dukkha Nirodha
I. di antara genang kenangan, Dia sisipkan:benih rindu dan bibit kelopak yang bersemudari mantra-mantra Semesta; 𝘰𝘮 𝘮𝘢𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘮𝘦 𝘩𝘶𝘮maka, tercuatkanlah; kemelut nan berdenyutdalam kubangan yang dahulunya hampaperlahan,yang tumbuh dari keruh itumulai jerih menyibak makna;kelunakan yang tak mengenal patah,keteguhan yang tak memilih tanahsetiap titis embun menjilati luka,untuk menemukan tempat bersuakadi antara perkara-perkara kekurangan;dukkha—mencerap kesuramanmenyerap apa-apa yang … Lanjutkan membaca Padma Nibbana; Dukkha Nirodha
Berkepakanlah, Jiwa … Berkekalanlah
Kala hati terlampau layu pasca-tarian kenelangsaan, mungkinkah kau terlupa bahwa sekuntum harapan masih dapat bertunas pada tanah yang retak di peraduan. Saat muram terlalu jauh merayapi batin yang kehilangan, lilin-lilin mungil yang dinyalakan alam dari doa ibu yang kudus di masa silam pun bisa saja ditenggelamkan dari kolam ingatan. Ada masanya kau biarkan gelisah menguasai … Lanjutkan membaca Berkepakanlah, Jiwa … Berkekalanlah
Air Mata Penyair
𝑷𝑨𝑹𝑨 𝑷𝑬𝑵𝒀𝑨𝑰𝑹 𝑻𝑰𝑫𝑨𝑲 𝑯𝑨𝑵𝒀𝑨 𝑴𝑬𝑵𝑨𝑵𝑮𝑰𝑺, Ananda. Mereka sulap air mata menjadi sekolam tinta, untuk kemudian dibubuhkan pada kertas-kertas tua. Panas dari kedua pelupuknya, tidak lain ialah energi yang menanti, untuk dimerdekakan dalam rangkaian kata. Kertas-kertas itu, kendati tampak lusuh dan terserak, bahkan kadangkala pula kusut masai sebagai penerus sembab matanya, telah berabad menjadi saksi bisu … Lanjutkan membaca Air Mata Penyair
La Beauté Empoisonnée
I.Ia lahir dari sehelai kelam yangtak sempat dirapikan,juga secarik malam yangtak pernah dirapalkan. Tumbuhnya, pada simpangantara desir waktu yang menolak berhentijuga bait-bait semusim yang telah lama mati.Setiap kelopaknya, menitiskan darahyang wangi,seolah dunia,belajar mencinta,lewat kepedihan hakiki.Maka, coba tanganmu punbergerak mengusap udaramengais makna; apakah kecantikan memang mesti lukaagar dapat dipercaya lakunya?II.Lantas, sang saga yang direkah pagi,menyicip cahaya … Lanjutkan membaca La Beauté Empoisonnée
Engkau Kumerdekakan
𝑺𝑨𝑴𝑷𝑨𝑰 𝑲𝑬𝑴𝑨𝑹𝑰𝑵, 𝑬𝑵𝑮𝑲𝑨𝑼 𝑴𝑨𝑺𝑰𝑯 berdiri di ambang kepalaku. Warna kulitmu tak bisa kutentukan: kadang merah, kadang biru. Mungkin, pandangan ini kertas lakmus yang bingung mendefinisikanmu sebagai asam ataukah basa. Di lain waktu, kau bening. Layaknya gumam yang belum atau malah tidak akan sempat mewujud sebagai kata. Entah apakah kau pernah benar-benar hidup, atau hanya kebocoran … Lanjutkan membaca Engkau Kumerdekakan
Cum Dulcēdine (With The Sweetness)
I.tumpah harummu ialah lembutyang meraup eksistensi kabutmenyebar lekat di udara yang kusutpantang pula ditelan angin ributpadahal, jendela t'lah kukuak lebar-lebar aroma itu merayapi hidung,menggoyahkan iman di tepian lidah,hingga leburlah ia di tenggorokanmanis tak mencolokmengendap macam rahasia malamyang memilih melelapkan eksistensinyadi dasar gelas kaca yang bercahayapadahal, ia nyaris diretakkan panas yang membakar pasalnya, engkau yang bertandang … Lanjutkan membaca Cum Dulcēdine (With The Sweetness)

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.