Sombra

SEMUA ORANG YANG MENGENALNYA sepakat: Nindhita selalu tersenyum. Senyum itu serupa tanda tangan: konstan, tak dilebih-kurangkan, cukup membuat mereka merasa diterima. Namun, terdapat seulas senyum kecil yang khusus ia sisipkan untuk hal tertentu.

Munafik

Sementara alunan Nocturne Op. 9 No. 2-nya Chopin mulai merambati kupingku dari pemutar musik kafe. “Menurutmu, orang yang selalu menunjukkan sisi baiknya ke orang lain tetapi menyembunyikan sisi gelapnya ..., itu munafik, tidak?”

Happy New Year

SEKETIKA, TEPUK TANGAN RIUH memenuhi ruangan, dan denting gelas bergema. Tak lama setelahnya, apa yang dinanti-nantikan tiba. Dentangan lonceng dari kejauhan yang menandai pergantian tahun. Semua orang mengangkat gelas mereka, menyatu dalam satu seruan:

Aku Ingin Embun

aku ingin hidup dalam kurungan embun,sekali-kali  meringkuk di balik dinginnya, bersembunyi dari mata sang rawikurungannya adalah kemerdekaandari bebandari sorotansebab hanya tahu menetes perlahan,  menggenang di ujung daun,lalu jatuh tanpa perlu alasandalam kurungan embun,waktu tak perlu diukur, warna tak perlu disadur,hanya pagi yang sibuk membiaskan diri,dan bayang burung 'kan mampir di sela ranting sunyi  kemudian aku … Lanjutkan membaca Aku Ingin Embun