SETELAH DUA JAM NON-STOP dipaksa bergerak, akhirnya aku diperkenankan beristirahat juga. Melelahkan sekali menjadi alas pergumulan panjang dua insan ini.
Malheur
SETELAH DUA JAM NON-STOP dipaksa bergerak, akhirnya aku diperkenankan beristirahat juga. Melelahkan sekali menjadi alas pergumulan panjang dua insan ini.
SEMUA ORANG YANG MENGENALNYA sepakat: Nindhita selalu tersenyum. Senyum itu serupa tanda tangan: konstan, tak dilebih-kurangkan, cukup membuat mereka merasa diterima. Namun, terdapat seulas senyum kecil yang khusus ia sisipkan untuk hal tertentu.
Sementara alunan Nocturne Op. 9 No. 2-nya Chopin mulai merambati kupingku dari pemutar musik kafe. “Menurutmu, orang yang selalu menunjukkan sisi baiknya ke orang lain tetapi menyembunyikan sisi gelapnya ..., itu munafik, tidak?”
SEKETIKA, TEPUK TANGAN RIUH memenuhi ruangan, dan denting gelas bergema. Tak lama setelahnya, apa yang dinanti-nantikan tiba. Dentangan lonceng dari kejauhan yang menandai pergantian tahun. Semua orang mengangkat gelas mereka, menyatu dalam satu seruan:
ENTAH SUDAH BERAPA KALI Ibu menuang petuah demikian. Timpalanku selalu sama. Senyum tipis yang menandakan ketegaran. Sesapuan ringis yang menandaskan keputusan.
SUATU HARI, CELAH HITAM merekah di langit semestaku. Malam tiba terlampau dini. Dari angkasa yang nirbintang, namamu mencuat dan memelesat. Ekornya membias bagai gema yang tak pudar-pudar.
Dari angkasa yang nirbintang, namamu mencuat dan memelesat.
IA ADALAH MENDUNG di langit-langitku. Kedatangannya tidak meninggalkan jejak. Yang jelas, membersamainya, aku disapa serpihan memori yang telah berlalu, kekecewaan yang bertalu-talu, kehilangan yang pilu, serta adukan haru dan malu.
Jam tiga dini hari memang waktu yang sempurna untuk menjadi hakim atas diri sendiri. Membuka sidang atas hal-hal yang sudah berlalu, yang seharusnya sudah selesai. Membongkar apa yang tidak butuh lagi jawaban, lalu menyerahkan diri pada kekosongan yang justru membuat dada terasa dibeludaki beban.
aku ingin hidup dalam kurungan embun,sekali-kali meringkuk di balik dinginnya, bersembunyi dari mata sang rawikurungannya adalah kemerdekaandari bebandari sorotansebab hanya tahu menetes perlahan, menggenang di ujung daun,lalu jatuh tanpa perlu alasandalam kurungan embun,waktu tak perlu diukur, warna tak perlu disadur,hanya pagi yang sibuk membiaskan diri,dan bayang burung 'kan mampir di sela ranting sunyi kemudian aku … Lanjutkan membaca Aku Ingin Embun
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.