Air Mata Penyair

ใ…คใ…ค๐‘ท๐‘จ๐‘น๐‘จ ๐‘ท๐‘ฌ๐‘ต๐’€๐‘จ๐‘ฐ๐‘น ๐‘ป๐‘ฐ๐‘ซ๐‘จ๐‘ฒ ๐‘ฏ๐‘จ๐‘ต๐’€๐‘จ ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ต๐‘จ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฐ๐‘บ, Ananda. Mereka sulap air mata menjadi sekolam tinta, untuk kemudian dibubuhkan pada kertas-kertas tua. Panas dari kedua pelupuknya, tidak lain ialah energi yang menanti, untuk dimerdekakan dalam rangkaian kata. Kertas-kertas itu, kendati tampak lusuh dan terserak, bahkan kadangkala pula kusut masai sebagai penerus sembab matanya, telah berabad menjadi saksi bisu … Lanjutkan membaca Air Mata Penyair

La Beautรฉ Empoisonnรฉe

I.Ia lahir dari sehelai kelam yangtak sempat dirapikan,juga secarik malam yangtak pernah dirapalkan. Tumbuhnya, pada simpangantara desir waktu yang menolak berhentijuga bait-bait semusim yang telah lama mati.Setiap kelopaknya, menitiskan darahyang wangi,seolah dunia,belajar mencinta,lewat kepedihan hakiki.Maka, coba tanganmu punbergerak mengusap udaramengais makna; apakah kecantikan memang mesti lukaagar dapat dipercaya lakunya?II.Lantas, sang saga yang direkah pagi,menyicip cahaya … Lanjutkan membaca La Beautรฉ Empoisonnรฉe

Engkau Kumerdekakan

๐‘บ๐‘จ๐‘ด๐‘ท๐‘จ๐‘ฐ ๐‘ฒ๐‘ฌ๐‘ด๐‘จ๐‘น๐‘ฐ๐‘ต, ๐‘ฌ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฒ๐‘จ๐‘ผ ๐‘ด๐‘จ๐‘บ๐‘ฐ๐‘ฏ berdiri di ambang kepalaku. Warna kulitmu tak bisa kutentukan: kadang merah, kadang biru. Mungkin, pandangan ini kertas lakmus yang bingung mendefinisikanmu sebagai asam ataukah basa. Di lain waktu, kau bening. Layaknya gumam yang belum atau malah tidak akan sempat mewujud sebagai kata. Entah apakah kau pernah benar-benar hidup, atau hanya kebocoran … Lanjutkan membaca Engkau Kumerdekakan

Cum Dulcฤ“dine (With The Sweetness)

I.tumpah harummu ialah lembutyang meraup eksistensi kabutmenyebar lekat di udara yang kusutpantang pula ditelan angin ributpadahal, jendela t'lah kukuak lebar-lebar aroma itu merayapi hidung,menggoyahkan iman di tepian lidah,hingga leburlah ia di tenggorokanmanis tak mencolokmengendap macam rahasia malamyang memilih melelapkan eksistensinyadi dasar gelas kaca yang bercahayapadahal, ia nyaris diretakkan panas yang membakar pasalnya, engkau yang bertandang … Lanjutkan membaca Cum Dulcฤ“dine (With The Sweetness)

Ronggamu Memamah Isi Semesta

๐‘น๐‘ถ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฎ๐‘จ๐‘ด๐‘ผ ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ด๐‘จ๐‘ด๐‘จ๐‘ฏ ๐‘ฐ๐‘บ๐‘ฐ Semesta. Engkau menelan tanpa perlu lidah, mereguk walau tak berbibir, menenggak tanpa peristaltik. Segenap materi yang berkelindan di udara: serpihan luka, debu-debu pengelana, serapah yang dilontarkan saliva, doa-doa merana di penghujung asa, napas yang terputus di ambang rasa ... kauserap ke dalammu pula. Engkaulah gravitasi yang mengisap segala. Meniadakan perbedaan yang lumrah … Lanjutkan membaca Ronggamu Memamah Isi Semesta

Takut Mati

๐‘ฒ๐‘ถ๐‘ป๐‘จ ๐‘ฐ๐‘ต๐‘ฐ ๐‘น๐‘จ๐‘บ๐‘จ๐‘ต๐’€๐‘จ ๐‘ด๐‘ฌ๐‘ต๐‘ถ๐‘ณ๐‘จ๐‘ฒ ๐‘ป๐‘ฐ๐‘ซ๐‘ผ๐‘น. Bahkan sewaktu lampu-lampu padam serentak, bayangannya masih bergerak sendiri. Merayapi dinding-dinding menjulang. Menempel di atap, menjelma orkestra bersama decak cecak dan kerik jangkrik. Jalanan dipenuhi kursi-kursi tanpa pemilik. Beberapanya berdiri tegak di atas genangan air. Sebagian terbalik dengan kaki menuding langit. Tidak ada yang mau mendudukinya. Tidak pula aku. Kesannya, … Lanjutkan membaca Takut Mati

Traktat Kepala Mega

I.Langitku hari ini dipatahkan petir, daririak satu entitas kelabuyang agaknya terlampau kerapmenyesap getir.Di atas kedua pundak,ia padatkan dunia tanpa kehendak,sekumpulan amuk turut bergolak-golakdari sisa peluh dan keluh naluri yang berteriak. Getar getir udara dihisapnya kuat dengan kemungkinan menanti di ujung Barat entah dalam hujan yang berkat,ataukah sebagai banjir yang khianat. Akan tetapi, Sayang, sejatinya, berathanya … Lanjutkan membaca Traktat Kepala Mega

Palung Paling Berbau Pulang

I.di hari pertama, kubelajar:gelombang takselalu memeluk penuh ramahada kalanya ia suruh aku palum tak berarahmenunggangi buih yang patah-patah juga kenyang memandang ombak memecahdengan dendam terbenam pasrahseakan-akan pepasir pun jerimenyimpan luka hati dan dosa jemariuntuk tak dilekangkan mentariatau hitungan hari-hari hari itu pula, kubelajar: setiap karangkadangkala menyemburkan keringโ€”serapah sebab, tiap kusandarkan hidup di atas terompahke sana; … Lanjutkan membaca Palung Paling Berbau Pulang

Hariku Berbadai

HARIKU BERBADAI, TETAPI TIADA pekik yang menyalak-nyalak atau memekakkan telinga. Hanya kedap-kedip mata kilat yang memusingkan jemala. Juga: geram gemuruh halus menyerupai desah laut yang dirahasiakan Bumi, dari langit, dan dari segala mata yang menaksir ketenangan pada wajah-wajah manusia.