Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Day 17 – Hiraeth

ALFA TAK TAHU nama perasaan ini. Campuran tergenang dalam kenangan, rindu yang bangsat sekaligus azimat. Sesuatu yang menghangatkan matanya pukul dua pagi, mengingatkan ia pada doa-doa yang abadi di kening hati.

Mungkin sunyi penyebabnya. Sebab malam ini, sepi menelan dengkur halus napas kawan sekamar, pun desing kipas angin yang terus berputar. Ia ingin rumah. Ia ingin dengar suara suling Bapa menembangkan Leworo Piring Sina saban subuh dan petang. Ia ingin bingar Mama dan kesibukan di dapur; desis kangkung tercelup didihan minyak, wangi ikan goreng, dan denting sendok piring yang berpadu guyuran air.

Bapa pernah bilang, jiwa Alfa diberkati sejak lahir. Tangisan perdananya disambut gema lonceng gereja kampung dan kokok ayam fajar. Kata Bapa, ia ditasbihkan alam jadi imam, maka itulah ia dinamai Alfa Rama Imam.

Bapa juga pernah bilang, ia ingin putra bungsunya jadi pria berbudi luhur yang mengarahkan masyarakat kampungnya dengan kebijakan menuju kebajikan.

Tutur Bapa dipiara dan dipupukinya dalam benak dan batin, tumbuh subur seiring Alfa kenal dunia. Omongan kawan main perihal Alfa yang Anak Manja menjadi pecutnya untuk hidup mandiri.

Namun, Bapa pula yang menangis keras dan merengkuhnya kala ia umumkan pilihan ingin masuk sekolah seminari di ibukota.

Meski matanya memuntahkan pilu, pria berkulit legam dengan sepenuh rambut memutih itu berseru tegas,

“Pilihan benar, Anak. Tuhan tuntun kau ke jalan benar untuk tuntun semua orang juga. Bapa dukung. Doa Bapa Mama untukmu selalu, Anak.”

Waktu itu Alfa tak tahu, berada berkilo-kilo dan berbulan-bulan tanpa pulang melihat Bapa Mama di kampung rupanya sekompleks ini. Waktu itu Alfa nihil akan pengetahuan, dengan menjadi pemimpin umat, berarti ia izinkan sepi, rindu, dan nostalgia pada Bapa Mama merubungi matanya tiap malam sunyi seperti ini.

Akan tetapi, Alfa percaya ia tak rindu sendiri. Di kampung yang nihil cahaya, ada Bapa Mama yang berlutut dalam doa, memohon agar doa mereka dipungut Tuhan untuk menyertai putra bungsu di kejauhan, dalam tiap detik helaan napasnya.


Diikutsertakan dalam Gerakan Rutin Menulis 30 Hari (Gerimis30Hari) Ellunar Publishing

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: