[Perjalanan: Pada Permulaan Hari] Subuh selalu kujadikan sebagai permulaan hari. Bersama embun, wangi pagi dan kokok ayam jantan, munculnya adalah keniscayaan. Habis gelap terbitlah terang. Habis malam pagi pun kujelang. Ada nuansa menarik yang kupetik kala berdiam diri di penghujung gelap, lantas menjemput pagi dan kepastian yang terbit dari ufuk timur. Tatkala gelap cakrawala mulai … Lanjutkan membaca Perjalanan: Pada Permulaan Hari
Hidup
Hidup adalah trivialitas sekaligus kompleksitas. Di satu sisi kau ingin menjalaninya tanpa perlu terlalu serius, di sisi yang lain ia perlu diseriusi. Hidup bagai berenang di tengah samudera. Kau lelah berenang, tapi bila tak bergerak, kau akan mati tenggelam. Kesalahan awalmu adalah karena kau menceburkan diri.
Sajak Inferno
Katakanlah aku celaka, sebab sengaja menghidu aroma yang sejak semula kutahu akan membiusku ke dalam gelombang ketidaksadaran. Berkali-kali, alarm dalam kepalaku berdengking, mencegahku memasuki labirin ini lebih dalam. 'Di sana gelap, kau akan sepi, sendiri, menggigil di bawah kuasa asing,' pekiknya. Kebebalanku tak mampu lagi ditolerir, aku tuli, aku buta, aku mati rasa. Tatap matamu … Lanjutkan membaca Sajak Inferno
Orang Sombong dan Orang Dengki
Orang sombong dan orang dengki hidup dalam satu teritori. Orang sombong mengagulkan diri, orang dengki mengucilkan diri. Orang sombong hidup melibas luka, orang dengki hidup berkalang duka. Orang sombong mati karena jumawa, orang dengki mati sebab terpenjara. Orang sombong dan orang dengki sama-sama merana, sama-sama celaka.
Tacenda
Aku tidak tahu pasti sudah berapa kali kucoba mengeruk dan mengorek kembali keping-keping kenangan yang telah reput, lalu memeluknya erat---rapat-rapat. Rindu selalu hadir tiba-tiba, datang tanpa permisi. Menjemputku menerobos dimensi waktu hanya demi mengingatimu yang telah melayang jauh meninggalkan dasar bumi yang kupijaki. Kepada selaput gemawan yang menyelimuti angkasa, dengan kandungan presipitasi cairnya yang ketika … Lanjutkan membaca Tacenda
Bumi Sudah Tua
Berpuisi tentang alam seolah tidak akan pernah membosankan, banyak ide bisa dicerap dari segala rupa kebutuhan yang sudah disediakan. Walau sepertinya, apa yang manusia sodorkan pada alam bukanlah membalas jasa, tapi mengorek kemarahan. Alih-alih memelihara, mereka malah menoreh luka. Tidak bisa kuimajinasikan besok lusa, kala Pertiwi sudah murka, lalu memporak-porandakan semua. Mungkin manusia akan terus … Lanjutkan membaca Bumi Sudah Tua
Waktu itu Keji
Waktu itu keji, katanya. Ia melesat cepat tanpa peduli siapa-siapa yang tertinggal. Kau yang tertidur hanya sebentar pun harus kalang kabut dengan semua perubahan yang tidak kamu sadari. Segala tuntutan, siapa-siapa yang terenggut paksa, setiap sakit yang semakin parah, susah dan sendu yang hanya menyisakan pasrah ... semuanya berjalan dalam garis linier. Tanpa ada tanda-tanda … Lanjutkan membaca Waktu itu Keji

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.