Dear, Abang Melalui apa yang terjadi pada suatu malam, saya punya spekulasi bahwa ada suatu hubungan yang mengikat kita berdua dalam satu simpul yang erat. Bersama-sama, kita bisa memberinya nama. Simpul love-hate, mungkin? Mulanya, saya pikir kamu membenci saya, karena selama ini terus-menerus meneror saya dengan aura yang mengintimidasi dan membuat saya masuk ke dalam … Lanjutkan membaca Kepada: (Kel)Abang
Matahari dan Bulan
Kamu ibaratnya matahari, dan dia rembulan. Pendarnya tidak akan kelihatan, jika kalian bersama. Apa yang tampak darinya adalah pantulan energimu saja. Sedangkan kamu, masih bisa bersinar, ada atau tidaknya dia. Agar hubungan kalian berdua tak saling merugikan, sebaiknya kalian saling berjauhan. Kamu dengan siangmu, dan ia dengan malamnya. Kemudian, kamu bisa senang bersinar terang, dan … Lanjutkan membaca Matahari dan Bulan
Selamat Pulang
Kuucap selamat pulang, kepada dedaun gugur di musim kemarau panjang, yang terkena libasan bayu kencang tak berhati; tiada bernurani. Padahal, reranting itu tempatmu tumbuh, Sayang. Dear, selamat pulang. Bila sudah kau temukan tempatmu di sana, jangan lupa hantarkan kabar padaku. Boleh lewat angin, atau lewat tetesan hujan yang entah kapan turunnya.
Semoga, akhirnya
Engkau adalah hibrida dari doa dan pengharapan, yang berawal dari mimpi dan angan. Kemudian, kujejalkan engkau dalam lafal romantis antara aku dan Pemilikku, pada penghujung malam yang dingin dan sunyi. Barangkali, peluh tak akan selalu menjelma tawa. Ada kalanya ia hanya bermuara pada sesal tiada tara. Namun, aku percaya, di akhir masa ia berbuah pahala … Lanjutkan membaca Semoga, akhirnya
Kadang, ketidakmampuan kita menyikapi terang itu lebih bahaya. Cahaya kerap membuat jumawa.
"Maaf belum bisa mencintai diriku sebanyak Engkau mencintaiku," ujar seorang hamba kepada Penciptanya.
Sejatinya musuh begitu lekat hingga tak terlihat. Begitu kuat namun tidak tersurat. Bergemuruh tetapi seolah luruh. Begitu ilusif tanpa bersikap agresif. Carilah ia, di dalam diri.
Isn't it kinda ironic that some people who said "No one should judge ones are right and ones are wrong" are actually judging others opinion and way of thinking?
Piyama
Aku terbanting dan menjelma sepucuk kertas di sisimu. Menjadi yang kautatap sepanjang waktu dan kaucumbui saban hari. Duniamu adalah literasi, dan kau sang penulis dengan pena bertinta emas, yang sungguh murah hati menyempatkan diri menandaiku yang sederhana. Kutakjubi dirimu di antara sederetan kata. Engkau, pewujud rentetan puisi indah nan megah dan mewah. Sungguh berdusta jika … Lanjutkan membaca Piyama
Pulang: Di Penghujung Hari
[Pulang: Di Penghujung Hari] Senja selalu mempersembahkan apa yang kucari. Euforia kala manusia berwajah lelah akibat menggeluti tumpukan kertas, deretan angka dengan banyak nol, atau lapangan terik yang serba-semrawut, kembali memenuhi jalanan dengan deru kendaraan. Tak kupedulikan kemacetan yang terbentuk dari manusia yang mengular. Tak kupermasalahkan udara petang yang terkontaminasi asap knalpot atau dengking klakson … Lanjutkan membaca Pulang: Di Penghujung Hari

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.