Kaupikir kau matahari, karena segudang puja-puji yang kautuai itu. Nyatanya kau cuma rembulan, bongkah batu, yang sejak kemunculan dirinya, mendedikasikan diri buat mengitari hidupnya, mengiringi gelap dan terang, surut juga pasang. Kaulupa pada titah bintang-bintang untuk jadi seperti mereka, berpendar jumawa di angkasa, menebar hangat ke ruang hampa, dan pantang menurut pada putaran mana saja. … Lanjutkan membaca Matahari dan Bulan (II)
Betelgeuse
Kadangkala ia ingin menjelma Betelgeuse yang tinggal tunggu ajal. Tetapi sebelum ia padam, akan ia sadarkan orang-orang yang menyakitinya, bahwa ia pernah bersinar, dan memberi kesan pada mereka melalui sebuah ledakan mahadahsyat.
Patah
Ada yang patah dalam hidupnya. Namanya harapan. Di suatu hari, ia menggantungkan asa setinggi puncak gunung. Menjulang, mencapai langit. Dan dengan tekad yang masif, ia berniat untuk mendaki. Berlelah-lelah. Memecut langkah, setapak demi setapak. Sayang, sekukuh apa pun niatnya, separah apa pun ia jungkir-balik, segalanya takkan bisa tercapai jika Semesta menghadirkan topan yang berkali-kali menghempaskannya. … Lanjutkan membaca Patah
Kepada: (Kel)Abang
Dear, Abang Melalui apa yang terjadi pada suatu malam, saya punya spekulasi bahwa ada suatu hubungan yang mengikat kita berdua dalam satu simpul yang erat. Bersama-sama, kita bisa memberinya nama. Simpul love-hate, mungkin? Mulanya, saya pikir kamu membenci saya, karena selama ini terus-menerus meneror saya dengan aura yang mengintimidasi dan membuat saya masuk ke dalam … Lanjutkan membaca Kepada: (Kel)Abang
Matahari dan Bulan
Kamu ibaratnya matahari, dan dia rembulan. Pendarnya tidak akan kelihatan, jika kalian bersama. Apa yang tampak darinya adalah pantulan energimu saja. Sedangkan kamu, masih bisa bersinar, ada atau tidaknya dia. Agar hubungan kalian berdua tak saling merugikan, sebaiknya kalian saling berjauhan. Kamu dengan siangmu, dan ia dengan malamnya. Kemudian, kamu bisa senang bersinar terang, dan … Lanjutkan membaca Matahari dan Bulan
Selamat Pulang
Kuucap selamat pulang, kepada dedaun gugur di musim kemarau panjang, yang terkena libasan bayu kencang tak berhati; tiada bernurani. Padahal, reranting itu tempatmu tumbuh, Sayang. Dear, selamat pulang. Bila sudah kau temukan tempatmu di sana, jangan lupa hantarkan kabar padaku. Boleh lewat angin, atau lewat tetesan hujan yang entah kapan turunnya.
Semoga, akhirnya
Engkau adalah hibrida dari doa dan pengharapan, yang berawal dari mimpi dan angan. Kemudian, kujejalkan engkau dalam lafal romantis antara aku dan Pemilikku, pada penghujung malam yang dingin dan sunyi. Barangkali, peluh tak akan selalu menjelma tawa. Ada kalanya ia hanya bermuara pada sesal tiada tara. Namun, aku percaya, di akhir masa ia berbuah pahala … Lanjutkan membaca Semoga, akhirnya
Kadang, ketidakmampuan kita menyikapi terang itu lebih bahaya. Cahaya kerap membuat jumawa.
"Maaf belum bisa mencintai diriku sebanyak Engkau mencintaiku," ujar seorang hamba kepada Penciptanya.
Sejatinya musuh begitu lekat hingga tak terlihat. Begitu kuat namun tidak tersurat. Bergemuruh tetapi seolah luruh. Begitu ilusif tanpa bersikap agresif. Carilah ia, di dalam diri.

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.