SUATU HARI, CELAH HITAM merekah di langit semestaku. Malam tiba terlampau dini. Dari angkasa yang nirbintang, namamu mencuat dan memelesat. Ekornya membias bagai gema yang tak pudar-pudar.
Gulita
Deret kalimat atau prosa sembarang yang tidak bisa dikategorikan ke dalam genre mana pun.
SUATU HARI, CELAH HITAM merekah di langit semestaku. Malam tiba terlampau dini. Dari angkasa yang nirbintang, namamu mencuat dan memelesat. Ekornya membias bagai gema yang tak pudar-pudar.
IA ADALAH MENDUNG di langit-langitku. Kedatangannya tidak meninggalkan jejak. Yang jelas, membersamainya, aku disapa serpihan memori yang telah berlalu, kekecewaan yang bertalu-talu, kehilangan yang pilu, serta adukan haru dan malu.
Jam tiga dini hari memang waktu yang sempurna untuk menjadi hakim atas diri sendiri. Membuka sidang atas hal-hal yang sudah berlalu, yang seharusnya sudah selesai. Membongkar apa yang tidak butuh lagi jawaban, lalu menyerahkan diri pada kekosongan yang justru membuat dada terasa dibeludaki beban.
If there were a spell from Harry Potter that could come true in the real world, I would choose "Obliviate." I would erase the memories of everyone who has ever known me, turning myself into a stranger once again. This includes my family. I just want to vanish into the unknown as someone unrecognizable.
Kondisi dan latar belakang orang boleh jadi berbeda. Tapi makna cinta selalu sama. Semua orang akan berusaha membuat yang dicintainya berbahagia.
Waktu jadikan kita dua tebing. Terpaut laut, mengangalah malam dan malang. Angin satu-satunya tukang pos yang menghantarkan rasa: ingin yang mendingin.
pagi-pagi sekali, secawan madu disajikan dalam tumpah ludah ayah di ujung meja makan. padahal, di sekitar kursi-kursi tengah berantakan: puing-puing dan sisa-sisa rencana hidup yang sudah diobrak-abrik kenyataan. huh, tak ada waktu lagi untuk menyusun ulang. ini dua puluh empat jam sebelum detik penentuan. walhasil, adik menangis, kakak meringis, ibu mengiris-iris, aku merasa miris. … Lanjutkan membaca Pagi di Rumah Lagi
Petang ini duka memang sedang senang bertandang, menyambangi halaman rumah kita yang baru saja berbenah dari suka. Rumput-rumput liar di pagar meringis miris, merunduk tunduk, beri jalan bagi kehilangan. Demi Agustus, masih mengendap wangi sitrus, masih menetap warna pirus. Sementara bendera-bendera yang kemarin bertengger di puncak, diturunkan separuh tiang. Kebitannya adalah lambaian, langgam perpisahan bagi … Lanjutkan membaca Pekarangan yang Memerdekakannya
ada senja yang menggelantung di katamu, sebentar lagi akan turun malam. aku terjebak antara indah dan pisah. harapan untuk tetap dalam jingga ini jelas hanya kosong saja. gelap yang sepi akan membungkusku lagi dan lagi. yang ditangguhkan pun tetap akan jumpa pada kelanjutan. di situ kau ajarkanku bahwa warna itu nisbi. merah belum tentu rekah … Lanjutkan membaca senja
tuan, pernah saya menggigit cabai yang sengaja saya masukkan sendiri dalam mangkuk sup sarapan pagi. hanya demi rasa lebih istimewa, saya rela lidah menyesap sensasi terbakar. konsekuensi lanjutannya, saya harus menenggak air segalon sampai perut ini begah. tuan, sepekan lalu, saya dipatuk ular yang sengaja saya pelihara dalam rumah sendiri. hanya demi peliharaan istimewa, saya … Lanjutkan membaca konsekuensi
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.