Dear, Abang Melalui apa yang terjadi pada suatu malam, saya punya spekulasi bahwa ada suatu hubungan yang mengikat kita berdua dalam satu simpul yang erat. Bersama-sama, kita bisa memberinya nama. Simpul love-hate, mungkin? Mulanya, saya pikir kamu membenci saya, karena selama ini terus-menerus meneror saya dengan aura yang mengintimidasi dan membuat saya masuk ke dalam … Lanjutkan membaca Kepada: (Kel)Abang
Matahari dan Bulan
Kamu ibaratnya matahari, dan dia rembulan. Pendarnya tidak akan kelihatan, jika kalian bersama. Apa yang tampak darinya adalah pantulan energimu saja. Sedangkan kamu, masih bisa bersinar, ada atau tidaknya dia. Agar hubungan kalian berdua tak saling merugikan, sebaiknya kalian saling berjauhan. Kamu dengan siangmu, dan ia dengan malamnya. Kemudian, kamu bisa senang bersinar terang, dan … Lanjutkan membaca Matahari dan Bulan
Semoga, akhirnya
Engkau adalah hibrida dari doa dan pengharapan, yang berawal dari mimpi dan angan. Kemudian, kujejalkan engkau dalam lafal romantis antara aku dan Pemilikku, pada penghujung malam yang dingin dan sunyi. Barangkali, peluh tak akan selalu menjelma tawa. Ada kalanya ia hanya bermuara pada sesal tiada tara. Namun, aku percaya, di akhir masa ia berbuah pahala … Lanjutkan membaca Semoga, akhirnya
Piyama
Aku terbanting dan menjelma sepucuk kertas di sisimu. Menjadi yang kautatap sepanjang waktu dan kaucumbui saban hari. Duniamu adalah literasi, dan kau sang penulis dengan pena bertinta emas, yang sungguh murah hati menyempatkan diri menandaiku yang sederhana. Kutakjubi dirimu di antara sederetan kata. Engkau, pewujud rentetan puisi indah nan megah dan mewah. Sungguh berdusta jika … Lanjutkan membaca Piyama
Pulang: Di Penghujung Hari
[Pulang: Di Penghujung Hari] Senja selalu mempersembahkan apa yang kucari. Euforia kala manusia berwajah lelah akibat menggeluti tumpukan kertas, deretan angka dengan banyak nol, atau lapangan terik yang serba-semrawut, kembali memenuhi jalanan dengan deru kendaraan. Tak kupedulikan kemacetan yang terbentuk dari manusia yang mengular. Tak kupermasalahkan udara petang yang terkontaminasi asap knalpot atau dengking klakson … Lanjutkan membaca Pulang: Di Penghujung Hari
Perjalanan: Pada Permulaan Hari
[Perjalanan: Pada Permulaan Hari] Subuh selalu kujadikan sebagai permulaan hari. Bersama embun, wangi pagi dan kokok ayam jantan, munculnya adalah keniscayaan. Habis gelap terbitlah terang. Habis malam pagi pun kujelang. Ada nuansa menarik yang kupetik kala berdiam diri di penghujung gelap, lantas menjemput pagi dan kepastian yang terbit dari ufuk timur. Tatkala gelap cakrawala mulai … Lanjutkan membaca Perjalanan: Pada Permulaan Hari
Sajak Inferno
Katakanlah aku celaka, sebab sengaja menghidu aroma yang sejak semula kutahu akan membiusku ke dalam gelombang ketidaksadaran. Berkali-kali, alarm dalam kepalaku berdengking, mencegahku memasuki labirin ini lebih dalam. 'Di sana gelap, kau akan sepi, sendiri, menggigil di bawah kuasa asing,' pekiknya. Kebebalanku tak mampu lagi ditolerir, aku tuli, aku buta, aku mati rasa. Tatap matamu … Lanjutkan membaca Sajak Inferno
Orang Sombong dan Orang Dengki
Orang sombong dan orang dengki hidup dalam satu teritori. Orang sombong mengagulkan diri, orang dengki mengucilkan diri. Orang sombong hidup melibas luka, orang dengki hidup berkalang duka. Orang sombong mati karena jumawa, orang dengki mati sebab terpenjara. Orang sombong dan orang dengki sama-sama merana, sama-sama celaka.
Tacenda
Aku tidak tahu pasti sudah berapa kali kucoba mengeruk dan mengorek kembali keping-keping kenangan yang telah reput, lalu memeluknya erat---rapat-rapat. Rindu selalu hadir tiba-tiba, datang tanpa permisi. Menjemputku menerobos dimensi waktu hanya demi mengingatimu yang telah melayang jauh meninggalkan dasar bumi yang kupijaki. Kepada selaput gemawan yang menyelimuti angkasa, dengan kandungan presipitasi cairnya yang ketika … Lanjutkan membaca Tacenda
Bumi Sudah Tua
Berpuisi tentang alam seolah tidak akan pernah membosankan, banyak ide bisa dicerap dari segala rupa kebutuhan yang sudah disediakan. Walau sepertinya, apa yang manusia sodorkan pada alam bukanlah membalas jasa, tapi mengorek kemarahan. Alih-alih memelihara, mereka malah menoreh luka. Tidak bisa kuimajinasikan besok lusa, kala Pertiwi sudah murka, lalu memporak-porandakan semua. Mungkin manusia akan terus … Lanjutkan membaca Bumi Sudah Tua

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.