Baru kali ini Saka merasa ingin menaruh dulu memori kolektifnya akan peristiwa kemarin ke suatu tempat yang tak terjangkau, sampai beberapa bulan kemudian, atau mungkin tahun, atau justru tidak dia kunjungi lagi sampai mati.
#13 Terminasi Memori
Fiksi yang mengangkat tema romansa, kisah romantika, dan percintaan.
Baru kali ini Saka merasa ingin menaruh dulu memori kolektifnya akan peristiwa kemarin ke suatu tempat yang tak terjangkau, sampai beberapa bulan kemudian, atau mungkin tahun, atau justru tidak dia kunjungi lagi sampai mati.
Kalimat itu terhenti, bukan oleh keinginan Saka sendiri. Sebab, Martha telah merangsek maju, mereduksi setiap spasi. Dan, sesuatu yang lembut, manis, tapi dingin, membungkam derasnya arus kalimat dari bibir Saka.
Ringkasan cerita Zack tentang caranya mendekati Bella disimak Saka dengan setengah sadar. Terlampau takjub hingga tak tahu mau bilang apa. Terlampau heran sampai kehilangan kata-kata.
Ada gagasan yang tiba-tiba terlahir dalam kepalanya, hingga Saka gugup sendiri. Gagasan yang menyalahi prinsip, juga kode etik profesinya. Namun, langkah ini bisa sedikit membantunya mencegah apa-apa yang tidak ia inginkan.
Saka mengangkat muka dan segera dihadapkan dengan seorang gadis yang ... cantik. Sebagai pria yang jarang memuji, jika otaknya mencetuskan kata cantik bagi seseorang, maka orang itu memang ‘sebegitu cantiknya’.
Saat pertama kali berjumpa dengan malam, angkasa jatuh hati. Malam melukiskan baginya keindahan yang semula tak ia ketahui.
Karakter Martha yang seperti itu membuatnya tidak bisa mengalkulasi berapa persen probabilitasnya untuk diterima dan ditolak.
Martha yang diketahuinya memang begitu. Saking penuh akan warna, Saka bingung menerka mana warna gadis itu yang sesungguhnya.
Aroma sampo, parfum, dan keringat akibat aktivitas sepanjang hari berbaur jadi aroma ‘Martha’ yang mengacaukan kerja otak seorang Saka.
Terbiasa menjadikan rumus dan premis sebagai pola pikirnya, Saka melihat Martha pertama kali sebagai benang kusut.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.