Mungkin saja, sinar Sang Matahari mampu mencegah Saka memunculkan sisi gelapnya. Menelusup ke dalam, menghangatkan hati lelaki itu, yang mudah sekali membeku.
#23 Konduksi Cahaya
Fiksi yang mengangkat tema romansa, kisah romantika, dan percintaan.
Mungkin saja, sinar Sang Matahari mampu mencegah Saka memunculkan sisi gelapnya. Menelusup ke dalam, menghangatkan hati lelaki itu, yang mudah sekali membeku.
Manusia adalah makhluk kompleks. Apa-apa yang rumit bisa dijadikannya lebih sederhana. Apa-apa yang sederhana malah disulapnya jadi rumit. Seperti hormon yang diterjemahkannya sebagai perasaan. Seperti perasaan yang diterjemahkan sebagai kekang.
Terkutuklah dirinya. Terkutuklah kehendak hatinya yang kerap berubah-ubah. Terkutuklah kebebasan yang dia terapkan pada dirinya sendiri, yang justru menjadi senjata untuk melukai orang lain, sekalipun itu terjadi tanpa dia sadari.
Ketika pintu itu menutup, Martha merasa atmosfer dalam ruangan bertambah berat sekian ratus atm. Syoknya masih belum surut, dan kini, ia dibiarkan untuk menyelesaikan semua.
Hening yang mengudara di sana agak lama. Hanya mata-mata yang saling lirik penuh konspirasi, ketika akhirnya untuk pertama kali sejak sekian menit berada di sana, Martha mengajak Saka bicara.
BADAI—ketika Lautan mengamuk, angkasa yang semula biru pun berubah kelabu.
Ada yang retak, yang berjarak, tapi bikin sesak. Setelah perasaan Saka yang kemudian harus ia hadapi dengan pura-pura bersikap biasa, ini kedua kalinya Martha mengutuk kadar kepekaannya.
Ia tahu, kesalahannya adalah memberi Saka harapan sejak awal. Ia tahu, dirinya sudah salah dan jahat sejak awal. Namun, malam itu, Martha rasa sudah saatnya ia berhenti bertindak jahat.
Kini Saka membenarkan hal yang sempat ditampiknya: dia sudah sepenuhnya jadi pecundang.
Andai yang Saka sukai bukan Martha, tapi gadis lain, mungkin dia tidak akan kebingungan dan berujung salah menentukan langkah begini. Andai yang Martha sukai bukan Zack, mungkin egonya tidak akan seterluka ini.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.