Andai yang Saka sukai bukan Martha, tapi gadis lain, mungkin dia tidak akan kebingungan dan berujung salah menentukan langkah begini. Andai yang Martha sukai bukan Zack, mungkin egonya tidak akan seterluka ini.
#14 Galat Abstraksi
Andai yang Saka sukai bukan Martha, tapi gadis lain, mungkin dia tidak akan kebingungan dan berujung salah menentukan langkah begini. Andai yang Martha sukai bukan Zack, mungkin egonya tidak akan seterluka ini.
Baru kali ini Saka merasa ingin menaruh dulu memori kolektifnya akan peristiwa kemarin ke suatu tempat yang tak terjangkau, sampai beberapa bulan kemudian, atau mungkin tahun, atau justru tidak dia kunjungi lagi sampai mati.
Kalimat itu terhenti, bukan oleh keinginan Saka sendiri. Sebab, Martha telah merangsek maju, mereduksi setiap spasi. Dan, sesuatu yang lembut, manis, tapi dingin, membungkam derasnya arus kalimat dari bibir Saka.
Kalimat yang diucapkan dengan tenang seakan tanpa intensi apa-apa itu justru seperti belati es yang menancap pada dada Saka. Separuh hatinya sakit karena usahanya terasa tidak dihargai. Separuhnya lagi malah mengangguk setuju, sebab Saka sendiri tahu, betapa tidak nyamannya berpenampilan begini.
Bahkan lama sebelum Saka tiba, dia bolak-balik menatap penampilan asing di hadapan cermin. Kebingungan akan siapa yang ada di dalam sana, juga skeptis pada diri sendiri. Keraguan hilang lalu timbul bagai denyut sakit gigi. Benarkah ini bisikan yang akan membuat Martha melihatnya?
Ringkasan cerita Zack tentang caranya mendekati Bella disimak Saka dengan setengah sadar. Terlampau takjub hingga tak tahu mau bilang apa. Terlampau heran sampai kehilangan kata-kata.
Ada gagasan yang tiba-tiba terlahir dalam kepalanya, hingga Saka gugup sendiri. Gagasan yang menyalahi prinsip, juga kode etik profesinya. Namun, langkah ini bisa sedikit membantunya mencegah apa-apa yang tidak ia inginkan.
Saka mengangkat muka dan segera dihadapkan dengan seorang gadis yang ... cantik. Sebagai pria yang jarang memuji, jika otaknya mencetuskan kata cantik bagi seseorang, maka orang itu memang ‘sebegitu cantiknya’.
Saat pertama kali berjumpa dengan malam, angkasa jatuh hati. Malam melukiskan baginya keindahan yang semula tak ia ketahui.
Karakter Martha yang seperti itu membuatnya tidak bisa mengalkulasi berapa persen probabilitasnya untuk diterima dan ditolak.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.