Martha yang diketahuinya memang begitu. Saking penuh akan warna, Saka bingung menerka mana warna gadis itu yang sesungguhnya.
#4 Rantai Kontradiksi
Martha yang diketahuinya memang begitu. Saking penuh akan warna, Saka bingung menerka mana warna gadis itu yang sesungguhnya.
Aroma sampo, parfum, dan keringat akibat aktivitas sepanjang hari berbaur jadi aroma ‘Martha’ yang mengacaukan kerja otak seorang Saka.
KETIKA BEBERAPA PEREMPUAN di zaman klasik dari berbagai latar belakang dikumpulkan, mereka membicarakan soal harapan mereka dan bagaimana mereka melaluinya dengan hunjaman penghakiman.
Terbiasa menjadikan rumus dan premis sebagai pola pikirnya, Saka melihat Martha pertama kali sebagai benang kusut.
Bagi Saka, Martha adalah karya seni itu sendiri. Bagi Saka, Martha menyimpan pesona cahaya dan misteri untuk dia gali.
SETIAP SAKSIKAN KABAR dikutilnya uang negara, Gamma memaki-maki sampai merobek koran yang dibaca, pun padamkan teve yang berceloteh ria.
TANPA MENIMBANG LEBIH LAMA, Alfa dan Omega putuskan menikah. Katanya, biar tidak berzina, dan halal bikin anak. Tak perlu otak gendut dijejali ilmu perumahtanggaan, apalagi hitung duit dengan upah buruh rendahan. Sekian ratus ribu sudah bisa daftar pernikahan di bawah tangan.
DI GURUN PASIR yang tandus itu, mungkin Fulan satu-satunya anak manusia yang tak perlu memikirkan lapar dan haus. Pundi-pundinya senantiasa terisi dan terus bertambah seiring langkahnya terkayuh, sampai kelak ia tiba di tempat tujuan pengembaraan mereka.
PEREMPUAN ingin belajar angka dan kata, tapi langkahnya diredam aksi pinangan dan siksa sang saksi. Katanya, ini demi keriput orang tuanya yang berutang budi.
JANTUNG OMI BERDEBAR riuh. Rumah adalah hal amat pribadi bagi setiap manusia yang ia tahu. Maka jika Pi sudi mengundangnya tinggal bersama, apakah rasa yang ia pendam ini berbalas?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.