ELARA PINDAH DUA HARI LALU, tapi sudah tiga kali mengunjungi perpustakaan belakang rumah. Berkat didikan Ibu yang kini di Surga, membaca lebur bersama jiwanya.
Rak Rahasia
ELARA PINDAH DUA HARI LALU, tapi sudah tiga kali mengunjungi perpustakaan belakang rumah. Berkat didikan Ibu yang kini di Surga, membaca lebur bersama jiwanya.
"SELAMAT DATANG DI KOTA MEMORIAM, wahai Jiwa Baru. Siapakah namamu sebelum mati?"
"ITU BUKANLAH RASA SAYANG. Anda hanya terobsesi memiliki tubuh saya. Anda bukanlah pemilik saya dan takkan pernah. Sayalah pemilik sejati atas diri saya sendiri! Sayalah yang berhak menentukan, ke mana saya harus melangkahkan kaki!"
JAKUN JAYA NAIK-TURUN-NAIK. Sungguh dia tergiur dengan bayang-bayang menjadi pendamping Ayu. Agar rupa indah Ayu bisa dilihatnya tiap mau tidur dan bangun tidur, bukan hanya dalam tidur.
AURORA MUAK SEKALIGUS TIDAK mengerti. Kota Megalopolis terlalu pakem untuk dia yang haus akan makna dan arti. Kenapa perempuan-perempuan harus hati-hati. Kenapa mereka terbelenggu aturan-aturan patriarki. Kenapa baju panjang mereka ada hanya demi menjaga diri dari bangkitnya kelamin lelaki.
ANDAI KHOLWA TAHU BETAPA aku iri padanya. Dengan privilese rasnya, Kholwa lolos audisi ke mana-mana. Pemotretannya berjalan selancar aliran angin di musim gugur. Wajahnya menempati majalah-majalah, juga sinetron. Baru-baru ini dia ditawari bergabung dalam film layar lebar.
PENJUAL BERTUDUNG ITU MENGEDIP. "Cukup nyali dan pengorbanan Anda. Ledakkan ini bersama Anda di tempat yang terlalu duniawi. Ketika Anda lenyap bersama serpih debu, tempat pertama yang Anda datangi selanjutnya adalah Surga. Tidak ada transit-transitan!"
WANITA ITU TETAP BERTANDANG, tapi Ibu salah. Ia selamanya hanya menjadi patung. Saat Bella menginjak sekolah dasar, perlahan-lahan, kemunculannya tidak seintens sebelumnya. Dia hanya muncul dari belakang kerumunan penerimaan raport, tanpa menerima raport siapa pun. Dalam kerumunan acara kelulusan, tanpa berpose dengan siapa pun.
IBU PERNAH BERTANYA, KENAPA Ayah ragu setan-setannya sudah pergi. Kala itu Ayah pulang dengan rambut gundul sebagian, dicukur keluarga klien yang kesal lantaran Ayah menampar-nampar anak mereka.
SATU KEPALA KECIL MELONGOK. Dua kepala. Tidak, tiga—empat—lima kepala! Mereka lebih besar sedikit daripada semut, tapi wujudnya manusia. Semuanya mematri pandangan mereka—mata yang kecil-kecil seperti biji wijen—ke arah Mia.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.