Dari Kuncup yang Pasi Itu

I. Sekali waktu,sekuncup dua kuncup pagi merekah di matamumenghibahkan warna di pucuk-pucuk mentariDan, kau bersabda,β€œCinta tak mengenal kekang waktu.”Lantas, brengsek manakahyang menyenandungkan lagu klasik berjudul sementaradi tepian senja yang mengungkung pundakmu?II.Barangkali, aku hanyasedang belajar membaca makna temuPada selang kalimat yang tak rampung, pada sela jemari yang melarunguntuk berpura-pura tak sengaja menggerungTak ada yang berubah, katamupadahal, … Lanjutkan membaca Dari Kuncup yang Pasi Itu

Retrograde

SEPULUH TAHUN SERUPA GARIS lengkung yang akhirnya bertemu pada satu titik koordinat di meja nomor dua belas. Sorot lampu kafe temaram menyapu dua wajah. Menghentikan sejenak laju waktu. Menjepitnya dalam dua pasang mata yang saling mengunci.

Solivagant

PEREMPUAN ITU SELALU DATANG sendirian. Mengambil tempat yang berbeda-beda dalam setiap kunjungan. Seakan masing-masing kedatangannya serupa proses meditatif untuk berkawan dengan setiap jengkal titik koordinat di ruangan. Dimulai dari sudut yang menghadap jalan raya, hingga meja kecil di samping tangga.

Kupikir Samudramu Terlalu Dalam

Engkau mencintai banyak orang. Engkau membenci banyak orang. Engkau serupa sebuah bejana pualam yang terbiar rengkah meluapkan isinya, karena dipaksa menampung samudra. Bukan berarti kau munafik. Kutahu; kau sungguh tak berpura-pura. Ketulusanmu justru terletak pada keberanian membiarkan dua kutub ekstrem itu membakar jantung secara bersamaan, tanpa sekali pun memalingkan muka.Engkau mencintai banyak orang. Cintamu, ialah … Lanjutkan membaca Kupikir Samudramu Terlalu Dalam