Pulang: Di Penghujung Hari

[Pulang: Di Penghujung Hari] Senja selalu mempersembahkan apa yang kucari. Euforia kala manusia berwajah lelah akibat menggeluti tumpukan kertas, deretan angka dengan banyak nol, atau lapangan terik yang serba-semrawut, kembali memenuhi jalanan dengan deru kendaraan. Tak kupedulikan kemacetan yang terbentuk dari manusia yang mengular. Tak kupermasalahkan udara petang yang terkontaminasi asap knalpot atau dengking klakson … Lanjutkan membaca Pulang: Di Penghujung Hari

Perjalanan: Pada Permulaan Hari

[Perjalanan: Pada Permulaan Hari] Subuh selalu kujadikan sebagai permulaan hari. Bersama embun, wangi pagi dan kokok ayam jantan, munculnya adalah keniscayaan. Habis gelap terbitlah terang. Habis malam pagi pun kujelang. Ada nuansa menarik yang kupetik kala berdiam diri di penghujung gelap, lantas menjemput pagi dan kepastian yang terbit dari ufuk timur. Tatkala gelap cakrawala mulai … Lanjutkan membaca Perjalanan: Pada Permulaan Hari

B Oakman in Anxiety Doesn’t Knock First said,

I lied and I said I was busy. I was busy; but not in a way most people understand. I was busy taking deeper breaths. I was busy silencing irrational thoughts. I was busy calming a racing heart. I was busy telling myself I am okay. Sometimes, this is my busy, and I will not … Lanjutkan membaca B Oakman in Anxiety Doesn’t Knock First said,

Hidup

Hidup adalah trivialitas sekaligus kompleksitas. Di satu sisi kau ingin menjalaninya tanpa perlu terlalu serius, di sisi yang lain ia perlu diseriusi. Hidup bagai berenang di tengah samudera. Kau lelah berenang, tapi bila tak bergerak, kau akan mati tenggelam. Kesalahan awalmu adalah karena kau menceburkan diri.