ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤ𝓢ebab, seberagam apa pun emosi yang dilahirkannya; suka, duka, luka atau murka ..., ㅤㅤjatuh cinta dan patah hati ialah dua mata air dari telaga nan suci. Sanggup menghidupkan kembali jiwa pujangga yang telah lama sepi, bahkan yang sudah mengerontang mati. ㅤㅤ
Sebab Seberagam Apa Pun …
Sebab, seberagam apa pun emosi yang dilahirkannya; suka, duka, luka atau murka ..., ㅤㅤjatuh cinta dan patah hati ialah dua mata air dari telaga nan suci. Sanggup menghidupkan kembali jiwa pujangga yang telah lama sepi, bahkan yang sudah mengerontang mati. ㅤ
Evanesca
REFLEKSI DI GELAS KACA memantulkan realita yang tak ia suka. Wajahnya terlalu biasa-biasa jika disandingkan dengan lautan manusia yang memesona. Ini takkan cukup untuk bisa membuatnya bersanding dengan Sang Pangeran.
Kintsugi
RAKA DAN NINDHITA IALAH dua gunung berapi yang saling hadang. Berdiri di atas landasan magma yang sama. Setiap langkah yang terkayuh seumpama gempa kecil nan mengakselerasi kehancuran.
Malheur
SETELAH DUA JAM NON-STOP dipaksa bergerak, akhirnya aku diperkenankan beristirahat juga. Melelahkan sekali menjadi alas pergumulan panjang dua insan ini.
Sombra
SEMUA ORANG YANG MENGENALNYA sepakat: Nindhita selalu tersenyum. Senyum itu serupa tanda tangan: konstan, tak dilebih-kurangkan, cukup membuat mereka merasa diterima. Namun, terdapat seulas senyum kecil yang khusus ia sisipkan untuk hal tertentu.
Munafik
Sementara alunan Nocturne Op. 9 No. 2-nya Chopin mulai merambati kupingku dari pemutar musik kafe. “Menurutmu, orang yang selalu menunjukkan sisi baiknya ke orang lain tetapi menyembunyikan sisi gelapnya ..., itu munafik, tidak?”
Happy New Year
SEKETIKA, TEPUK TANGAN RIUH memenuhi ruangan, dan denting gelas bergema. Tak lama setelahnya, apa yang dinanti-nantikan tiba. Dentangan lonceng dari kejauhan yang menandai pergantian tahun. Semua orang mengangkat gelas mereka, menyatu dalam satu seruan:
Naśvara
ENTAH SUDAH BERAPA KALI Ibu menuang petuah demikian. Timpalanku selalu sama. Senyum tipis yang menandakan ketegaran. Sesapuan ringis yang menandaskan keputusan.
Gulita
SUATU HARI, CELAH HITAM merekah di langit semestaku. Malam tiba terlampau dini. Dari angkasa yang nirbintang, namamu mencuat dan memelesat. Ekornya membias bagai gema yang tak pudar-pudar.

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.