Dari angkasa yang nirbintang, namamu mencuat dan memelesat.
Celah Hitam di Semestaku
Dari angkasa yang nirbintang, namamu mencuat dan memelesat.
IA ADALAH MENDUNG di langit-langitku. Kedatangannya tidak meninggalkan jejak. Yang jelas, membersamainya, aku disapa serpihan memori yang telah berlalu, kekecewaan yang bertalu-talu, kehilangan yang pilu, serta adukan haru dan malu.
Jam tiga dini hari memang waktu yang sempurna untuk menjadi hakim atas diri sendiri. Membuka sidang atas hal-hal yang sudah berlalu, yang seharusnya sudah selesai. Membongkar apa yang tidak butuh lagi jawaban, lalu menyerahkan diri pada kekosongan yang justru membuat dada terasa dibeludaki beban.
aku ingin hidup dalam kurungan embun,sekali-kali meringkuk di balik dinginnya, bersembunyi dari mata sang rawikurungannya adalah kemerdekaandari bebandari sorotansebab hanya tahu menetes perlahan, menggenang di ujung daun,lalu jatuh tanpa perlu alasandalam kurungan embun,waktu tak perlu diukur, warna tak perlu disadur,hanya pagi yang sibuk membiaskan diri,dan bayang burung 'kan mampir di sela ranting sunyi kemudian aku … Lanjutkan membaca Aku Ingin Embun
DI HUTAN, POHON-POHON TUA LAKSANA barikade bisu. Memagari eksistensi Jian Kai dari keriuhan di tengah peradaban. Sudah dua bulan ia bertahan, mengakrabi kesunyian yang menyelubungi bagai selimut musim dingin.
DALAM DUNIA DI MANA rembulan dan mentari saling berbincang-bincang, bayi-bayi dilahirkan dengan kantung mayat masing-masing.
DI TENGAH SORAK-SORAI yang riuh menyambut ucapan manis pria yang baru saja disahihkan sebagai suamiku, hanya kepalaku saja yang lancang melayangkan tanya; selama apakah ‘selamanya’ itu?
YA, SELALU SEPERTI INI. Ria adalah Si Tukang Mengalah, yang harus melakukan semua titah Ari, dan harus rela disalahkan atas segenap rajukan Ira. Itu karena dirinya anak tengah, jadi posisinya nggak penting bagi siapa-siapa.
AKU BAYANGIN PASTI SERU banget main baseball bareng teman-temanmu di lapangan Pak Haji Dadang. Terus memancing lele di empangnya. Aku kangen makan tempe dan lemper Teh Nining. Di sini nggak ada lele, tempe, atau lemper. Adanya burger. Hehehe.
SENJA ITU PASTILAH JINGGA jika kita mengobrolkan kenyataan. Namun, di lensaku yang cacat dan lelah akan dunia, ia hanya tampak bagai angkasa yang memar, habis digebuki dosa-dosa penduduk Bumi. Sama seperti batinku yang retak, remuk, setelah bertubi-tubi menerima omelan-omelan bos.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.