di rongga dada; lama-lama kesejukan permisi ... dari rusuk-rusuk yang remuk ... dari jantung yang semata menggelantung ....
Hari yang Indah Untuk Mati
di rongga dada; lama-lama kesejukan permisi ... dari rusuk-rusuk yang remuk ... dari jantung yang semata menggelantung ....
TIDAK MUNGKIN, 'KAN, liburannya di kota ini malah mempertemukan dirinya dengan sang mantan kekasih yang sudah dua tahun hilang kabar? Itu hanya satu dari sejuta kemungkinan.
PADA SUATU HARI, ada kau dan aku di sini. Mengukir jejak-jejak di sepanjang pantai, membiarkan sejuknya angin laut menerbangkan asa, dan merelakan sinar matahari mematangkan rasa. Tapi erat genggamanmu padaku seolah tak sudi tanggal oleh apa pun. Masa depan terasa sedekat kata-kata. Dunia ini sejatinya milik kita.
KEHIDUPAN DI DERMAGA ASA memang abadi. Kapal-kapal bertengger, datang dan singgah, bergantian dipecut mentari, ditudungi rembulan, dibuai angin laut, dibelai ketenangan lautan ...
MAYA BERPIJAK SENDIRIAN LAGI DI SINI. Tempat tinggalnya telah hampa. Rumah disulap menjadi puing-puing. Langit yang semula biru digumuli kelabu.
ELARA PINDAH DUA HARI LALU, tapi sudah tiga kali mengunjungi perpustakaan belakang rumah. Berkat didikan Ibu yang kini di Surga, membaca lebur bersama jiwanya.
"SELAMAT DATANG DI KOTA MEMORIAM, wahai Jiwa Baru. Siapakah namamu sebelum mati?"
INI SALAH BARA, PIKIR AGNI. Mereka tidak akan tersesat, andaikata cowok itu tidak menerbitkan ajakan berkemah di gunung. Walhasil, malam menjebak mereka dalam ketidakpastiannya.
"ITU BUKANLAH RASA SAYANG. Anda hanya terobsesi memiliki tubuh saya. Anda bukanlah pemilik saya dan takkan pernah. Sayalah pemilik sejati atas diri saya sendiri! Sayalah yang berhak menentukan, ke mana saya harus melangkahkan kaki!"
SABIRU, KABAR ITU DATANG bagai sambaran petir di jantungku. Melemahkannya, hingga aku tergolek tanpa daya. Penyesalan menyulap Bumi menjadi selapis es membekukan.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.