"SESEORANG MENGANCAMKU. Apa yang harus aku lakukan?"
Halusinasi
"SESEORANG MENGANCAMKU. Apa yang harus aku lakukan?"
"PERMISI, APA KELAS yoganya sudah dimulai?" Wanita itu baru saja menyalakan lilin.
SEEKOR ULAR MENEROBOS masuk liang telingaku. Dari mulutnya yang berbisa, terbisikkan seuntai kalimat, "Petiklah buah pohon itu". Dan, aku memetiknya.
DULI MEMATIKAN SAMBUNGAN. Demikianlah balasannya atas permintaan maaf Ria untuk ketiadaan hadiah tahun ini.
OLEH-OLEH DARI DUBAI yang kamu bawa kutimang dengan semringah. Sekalipun sebetulnya, aku tidak begitu memerlukan pun menginginkannya. Aku hanya senang kamu kembali dengan selamat.
AKU MENGERUTKAN HIDUNG. Seberkas aroma yang terhidu mengusikku. Memunculkan letusan di kepala, seolah sehelai benang telah putus tiba-tiba.
‘NAMA: AI. Umur: 10 tahun. Cita-cita: jadi orang dewasa.'
KUINGAT KAKAK PERNAH MENGGUMAM, "Berarti, sepertinya Ayah memang pake sepatu hak."
BAGI NERISSA, HIDUPNYA adalah sampah.
SUATU HARI, AKU MENEMUKAN anak-anak dalam tubuh Mak.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.