DI TIKUNGAN KEENAM, aku akan menemui anak tangga pertama.
Meniti
DI TIKUNGAN KEENAM, aku akan menemui anak tangga pertama.
AKU MENYIBAK SELIMUT dan yang kudapati adalah gigil yang ganjil. Padahal ada bau pembakaran dari sisa asap tembakau yang terjebak dalam kamar semalaman.
KUTAHU, HIDUP INI DIGELUNG DURJANA bernama waktu. Yang menciptakan tangan-tangan tak tampak untuk menjauhkan taut atau menautkan yang jauh. ‘Ada’ bisa saja disulapnya ‘tiada’, sebab tiada yang akan selamanya ada.
Jauh sebelum peperangan pecah dan meruntuhkan mereka hingga harus hilang dalam sejarah, tanah di tengah-tengah pulau surgawi pernah punya cerita yang indah.
hidup saya adalah kopi ... kepahitan mencuat menjadi jeruji ...
SEUMUR HIDUP, SEPERTINYA aku tidak pernah peduli pada nama Mama. Dalam rekaman memoriku, nama itu serupa teman yang pernah kukenal sekali di masa lalu lalu kulupakan lagi karena tidak seberapa penting. Seolah telah diselaputi lumut dan kabut yang timbul saking tidak pernah kukunjungi.
"Aku tidak pernah mati, tidak seorang pun. Tapi aku pernah melewati dermaga di mana orang-orang yang kausebut mati. Di dermaga itulah, kusaksikan, kita sebenarnya tidak memiliki akhir."
Ketika tinggiku hampir menyamai tanaman buxus yang menamengi rumah tetangga, Ayah gemar mengajakku jalan-jalan malam hari.
Ibu memang tidak menggenggam cemeti, atau sapu lidi untuk dikibaskan ke betis, atau kayu untuk diempaskan ke punggungku. Namun, ada lidah Ibu yang rutin menampari ulu hati.
Maka tak peduli telah berapa kali langit hitam menjadi purnama, aku menyusun pelita sebutir demi sebutir, yang kupetik dari percik bintang kecil di bahu bimasakti, untuk kurajut jadi selimut demi menghangatkannya dari kuyup dan dingin. Begitu selimutku rampung tiga bulan kemudian, kubungkus ia dalam kedamaian. Pertemuan kami ditutup dengan pelukan dan tepukan yang menenangkan.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.