Piyama

Aku terbanting dan menjelma sepucuk kertas di sisimu. Menjadi yang kautatap sepanjang waktu dan kaucumbui saban hari. Duniamu adalah literasi, dan kau sang penulis dengan pena bertinta emas, yang sungguh murah hati menyempatkan diri menandaiku yang sederhana. Kutakjubi dirimu di antara sederetan kata. Engkau, pewujud rentetan puisi indah nan megah dan mewah. Sungguh berdusta jika … Lanjutkan membaca Piyama

Pulang: Di Penghujung Hari

[Pulang: Di Penghujung Hari] Senja selalu mempersembahkan apa yang kucari. Euforia kala manusia berwajah lelah akibat menggeluti tumpukan kertas, deretan angka dengan banyak nol, atau lapangan terik yang serba-semrawut, kembali memenuhi jalanan dengan deru kendaraan. Tak kupedulikan kemacetan yang terbentuk dari manusia yang mengular. Tak kupermasalahkan udara petang yang terkontaminasi asap knalpot atau dengking klakson … Lanjutkan membaca Pulang: Di Penghujung Hari

Perjalanan: Pada Permulaan Hari

[Perjalanan: Pada Permulaan Hari] Subuh selalu kujadikan sebagai permulaan hari. Bersama embun, wangi pagi dan kokok ayam jantan, munculnya adalah keniscayaan. Habis gelap terbitlah terang. Habis malam pagi pun kujelang. Ada nuansa menarik yang kupetik kala berdiam diri di penghujung gelap, lantas menjemput pagi dan kepastian yang terbit dari ufuk timur. Tatkala gelap cakrawala mulai … Lanjutkan membaca Perjalanan: Pada Permulaan Hari

B Oakman in Anxiety Doesn’t Knock First said,

I lied and I said I was busy. I was busy; but not in a way most people understand. I was busy taking deeper breaths. I was busy silencing irrational thoughts. I was busy calming a racing heart. I was busy telling myself I am okay. Sometimes, this is my busy, and I will not … Lanjutkan membaca B Oakman in Anxiety Doesn’t Knock First said,