Karena jika aku jadi makhluk hijau licin itu, kini aku sedang berkubang dalam ceruk jalanan yang diisi lumpur, lalu terbahak-bahak melihat manusia yang dipecundangi manusia lain, di bawah rinai hujan yang sama.
Kenapa Aku Tidak Jadi Kodok Saja?
Karena jika aku jadi makhluk hijau licin itu, kini aku sedang berkubang dalam ceruk jalanan yang diisi lumpur, lalu terbahak-bahak melihat manusia yang dipecundangi manusia lain, di bawah rinai hujan yang sama.
Tok ...tok...tok... ada yang mengetuk pintu hatimu. Namun, kau padamkan itu. Barangkali, dunia sudah buang tahi di kupingmu.
Tangan waktu yang terus berputar dalam irama konstan menghantarkanku pada dua kata: Enam Bulan. Masa yang kumiliki sampai bom waktu dalam diri meledak dan menghancurkanku sendiri menjadi jutaan serdak-serdak kecil.
Kamu adalah tumpah dan putih ... Dingin menusuk tulang sumsum ...
Ketenangan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengelabui.
'Tribal', menurutku aliansi paling absurd sedunia. Trio bebal panjangannya. Seperti inilah kisah hidupku bersama Sean dan Eior.
Di malam Valentine, empat bulan lagi, salju yang jatuh di kaki Goldwin bakal ditumpahi merahnya darah.
Seseorang pernah bertanya padaku, manusia macam apa yang membuatku iri, dan kujawab, “Aku iri pada manusia yang memiliki kapal.”
[Sebuah Lipogram] Inilah konsekuensi dari sebuah harapan mustahil, yang berlangsung dalam tiga babak.
Bara di tangannya akhirnya memantik. Hidup. Tumbuh dan menggelepar ditampar angin. Kemudian berkobar-kobar minta sambaran.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.