Dikecupnya bibir yang kini sewarna darah, kontras dengan warna kulit gadis itu yang pucat.
Romansa Pemerah Bibir
Dikecupnya bibir yang kini sewarna darah, kontras dengan warna kulit gadis itu yang pucat.
Aku mencintai dia, namun hujan membuatku menyayangi dia yang lainnya. Lalu pada akhirnya, aku tak beroleh apa-apa.
Wanita muda itu tidak tahu dosa apa yang dilakukannya sampai beban yang harus ia tanggung pun rasanya terlampau lajat. Ia hanya bisa menangis.
Dia datang lagi. Penantianku selama setahun ini akhirnya terealisasikan juga. Aku bahagia... sekali. Tempat tinggalku jadi ramai dan bersih
Namanya Nida, sahabatku satu-satunya. Atau bisa dibilang, akulah sahabatnya satu-satunya. Ya, karena hanya aku yang selama dua tahun berteman dengannya ini yang tahan dengan 'penyakit indah'-nya.
Waktu itu keji, katanya. Ia melesat cepat tanpa peduli siapa-siapa yang tertinggal. Kau yang tertidur hanya sebentar pun harus kalang kabut dengan semua perubahan yang tidak kamu sadari. Segala tuntutan, siapa-siapa yang terenggut paksa, setiap sakit yang semakin parah, susah dan sendu yang hanya menyisakan pasrah ... semuanya berjalan dalam garis linier. Tanpa ada tanda-tanda … Lanjutkan membaca Waktu itu Keji
Seorang insan muda menawarkan pencerahan bagi kaum yang gulita. Sayangnya, ia tak bisa berlama-lama menikmati mentarinya.
Aku dan kamu jauh berbeda. Tapi kekasih yang terbaik adalah kekasih yang terbalik. Camkan itu!
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.