Terkadang Juan rindu pada masa lalu. Masa di mana semua orang belum dihempas badai bernama perubahan.
Juan Pamit
Fiksi yang melibatkan penyiksaan karakter secara emosional.
Terkadang Juan rindu pada masa lalu. Masa di mana semua orang belum dihempas badai bernama perubahan.
Pernahkah kau terlelap di suatu tempat dan ketika matamu terkuak di pagi hari, kau berada di tempat yang sama sekali berbeda dengan lokasi semula? Seseorang bernama Kin mengalaminya.
Mereka tidak tahu ada satu entitas yang memilih menyerah, dan tidak juga tahu kalau kepada entitas itu, Semesta tawarkan hal yang berbeda.
Bagaimana bila kau bisa melihat kapan seseorang mati?
Aku dan kamu, tak lain adalah aliran air yang saling mencari. Di matamulah kutemukan muaraku. Di matakulah kau akan menemukan muaramu.
Kukenang pertemuan pertama dan kedua kami. Biarkan aku mengkristalkannya meskipun kereta waktu terus menjauh. Dan aku menjadi sosok yang tertinggal, sampai kelak aku binasa.
Kalau aku tahu hidupku akan begini, sewaktu masih berada di dalam kandungan, aku mending memilih tidak dilahirkan.
Qiang Jie kecil menyukai musim dingin, sebab aromanya seperti aroma ibu.
Saya adalah jiwa yang terasing dari peradaban karena ingin kabur dari kehidupan yang semestinya.
“Aku bisa melihat kepingan salju dalam bola matamu.”
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.